Sidney Jones: Otak serangan Bom Thamrin bukan Bahrun Naim

Ada persaingan di elit politik ISIS wilayah Indonesia, mereka ingin membuktikan bahwa mereka pantas mendapatkan mandat untuk berperang

Febriana Firdaus

Published: 4:22 PM February 2, 2016

Updated: 8:22 PM February 2, 2016

OTAK BOM SARINAH. Paspor ini adalah milik Bahrun Naim yang diduga adalah otak dari peledakan dan penembakan di Sarinah. Foto istimewa

JAKARTA, Indonesia — Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengatakan bahwa penembakan dan peledakan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari lalu, kemungkinan tak didalangi oleh Bahrun Naim.

Melainkan dirancang oleh kelompok Jamaah Anshar Khilafah (JAK) yang secara ideologis dipimpin oleh Aman Abdurrahman. 

“Sampai sekarang memang menuju ke situ (Bahrun bukan otak serangan),” kata Sidney pada Rappler, Selasa, 1 Februari.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian mengatakan bahwa otak serangan Sarinah adalah Bahrun Naim. 

“Di Asia Tenggara, ada beberapa tokoh yang saling bersaing untuk memperebutkan kepemimpinan. Aksi-aksi di Indonesia termasuk di Sarinah dikendalikan oleh tokoh bernama Bahrun Naim,” kata Tito saat menggelar konferensi pers pasca serangan di Istana Negara, 14 Januari, petang.

Namun Sidney mengaku ia semakin yakin bahwa Bahrun bukan aktor utama, karena serangan itu direncanakan di tingkat lokal, bukan perintah langsung dari Suriah. 

Apakah ini berarti Aman berada di belakang serangan bom Sarinah?

“Masih belum diketahui secara persisnya, apakah peranan Aman langsung atau tidak. Tapi kami tahu bahwa Aman memberikan tausyiah (ceramah) pada keempat pelaku,” kata Sidney. 

Keempat pelaku yang dimaksud adalah Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif alias Sunakin, dan Ahmad Muhazan. Keempatnya adalah anggota JAK.

Afif diketahui adalah tukang pijat Aman, sang pemimpin ideologis yang kini mendekam di LP Nusakambangan, Cilacap. Keempatnya dikenal cukup dekat dengan Aman, sebagai murid "mengaji". 

Bagaimana dengan Bahrun, apakah ia benar-benar tak ambil bagian dalam serangan di kawasan Thamrin tersebut?

Menurut Sidney, keterlibatan Bahrun di serangan Thamrin, meski bukan sebagai otak, belum bisa dipastikan karena aliran dana yang belum terang hingga saat ini. 

Tapi Sidney membenarkan bahwa Bahrun ialah orang yang merencanakan serangan pada Agustus dan Desember 2015. 

Persaingan antara elit politik di ISIS

Sementara itu, serangan di kawasan Thamrin kemarin juga berbau persaingan politik di internal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) wilayah Indonesia.

Dalam serangan di Jakarta, pemimpin kelompok kecil yang pro-ISIS ini, kata Sidney, sesungguhnya sedang bersaing untuk membuktikan bahwa mereka pantas mendapat mandat untuk berperang. 

Dalam laporan IPAC, Sidney juga mengungkap peta persaingan yang terjadi antara kubu Bahrumsyah, anggota ISIS asal Indonesia yang berada di Suriah yang juga mengkomandoi Katibah Nusantara, kelompok militan ISIS wilayah Indonesia-Australia, dan kubu Abu Jandal. 

“Aman sudah pecah (kongsi) dengan Bahrumsyah, dan lebih dekat dengan Abu Jandal, sehingga serangan kemarin melambungkan nama Abu Jandal,” kata Sidney, meski ia tak yakin Abu Jandal telah memerintahkan langsung serangan itu pada Aman. 

Bahrun membantah sejak awal

Sementara itu, Bahrun Naim sejak awal membantah keterlibatannya. Lewat sebuah rekaman berdurasi 6 detik yang diperoleh Rappler dari jaringan Solo yang dipercaya adalah suaranya, Bahrun menjawab tudingan bahwa ia mengendalikan serangan Sarinah dari Suriah.

Lha, wong saya itu jarang online, dikira komunikasi, komunikasi dari Hong Kong?” begitulah kiranya pernyataan Bahrun seperti yang terdengar dalam rekaman. 

Namun hingga kini rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara resmi.

Tapi polisi tak serta-merta mengamini pernyataan "Bahrun" ini. Kepala Polisi Jenderal Badrodin Haiti malah meminta terduga dalang penembakan dan peledakan bom di Sarinah tersebut untuk muncul ke publik dan menjelaskan bantahannya.

“Kalau dia mau, dia bisa keluar dan bicara di publik. Biar kita publish,” kata Badrodin pada Rappler, 17 Januari.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan bahkan bersikukuh ada hubungan antara Bahrun dengan Aman.

Luhut mengaku mendapatkan kabar mengenai adanya komunikasi antara Bahrun dan Aman yang masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.

"Ada cerita Bahrun Naim ada kontak dengan Aman di Nusakambangan. Akan kami selidiki," kata Luhut. 

Lalu siapa Aman Abdurrahman?

Aman dikenal sebagai pemimpin spiritual JAK yang juga tokoh ISIS di wilayah Indonesia. Ia mendekam di penjara Nusakambangan setelah divonis hukuman penjara sembilan tahun pada 2010 dalam kasus pelatihan militer di Jantho, Aceh.

Di kalangan aktivis jaringan Solo, Aman dikenal sebagai orang yang keras tapi lembut dalam menyampaikan ceramah. Ia bahkan lebih keras dari koleganya, Abu Bakar Ba'asyir. Ia dikenal cukup kharismatik.

Amanlah yang, menurut sumber di Solo, memengaruhi Ba'asyir untuk mendukung ISIS pertama kali. Ba'asyir kemudian mendeklarasikan dukungannya pada ISIS.

Berikut posisi Aman dan Ba'asyir dalam jejaring pendukung ISIS di Indonesia: 

Sekretaris Jenderal The Islamic Studi and Action Center, Hendro Sudarsono, yang juga bagian humas Laskar Umat Islam Surakarta dan staf pengajar Pondok Al Mukmin Ngruki, meragukan analisa Sidney soal asal jamaah pelaku teror Thamrin. 

“Menurut sumber kami, mereka tidak berasal dari Jamaah Jamaah Anshar Khilafah (JAK),” kata Hendro pada Rappler sore ini.

Ia juga meragukan JAK siap untuk mengorganisir serangan di Jakarta. Mengapa?

“Karena jamaah ini masih baru, belum sempat dideklarasikan, strukturnya saja belum lengkap,” katanya. 

Hendro menambahkan bahwa JAK baru mendeklrasikan dukungan atas wacana khilafah, tapi belum amaliyah.  

Lalu apakah empat pelaku berhubungan dengan Aman Abdurrahman? Hendro juga belum bisa memastikan.

“Karena semua petunjuknya putus, asal-usul jaringan ini gelap,” kata aktivis gerakan Islam yang dikenal dekat dengan kalangan jihadis ini. —Rappler.com

Menelisik jaringan pelaku teror (Bagian II) 

Profil Afif, teroris yang menembak polisi di Sarinah

Menelisik jaringan pelaku teror Sarinah (Bagian I)