SIMAK: Jakarta, dulu dan kini

Hari ini, 22 Juni, kota Jakarta genap berusia 489 tahun. Bagaimana perubahannya?

Rappler.com

7:23:50am June 22, 2016

9:5:5am June 22, 2016

JAKARTA, Indonesia—Ibukota Jakarta hari ini, 22 Juni, genap berusia 489 tahun. Di usia yang hampir setengah milenium tersebut, tentu banyak sekali perubahan di kota ini, baik yang terlihat maupun yang kasat mata.

Sebelum hari jadinya di tahun 1527, Jakarta dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Setelah itu, Jakarta sempat berganti nama menjadi Jayakarta (1527-1619), Batavia (1619-1942), hingga akhirnya berubah menjadi Jakarta sejak jaman pendudukan Jepang tahun 1942.

Di usianya yang kini sudah menua, kota Jakarta telah mengalami berbagai perubahan sebagai kota metropolitan yang terus berkembang. Berikut perbandingan kota Jakarta dulu dan kini.

Monumen Selamat Datang

Monumen yang berada di tengah Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, ini diresmikan pada tahun 1962—bersamaan dengan Hotel Indonesia— saat Jakarta menyambut Asian Games IV. Hotel Indonesia merupakan tempat penginapan resmi para atlet dan ofisial pada saat itu.

Setelah era reformasi, Bundaran Hotel Indonesia sering digunakan sebagai lokasi demonstrasi. Yang terlihat berubah dari bundaran ini adalah, Hotel Indonesia yang kini berada di bawah naungan jaringan hotel internasional Kempinski.

Monumen Nasional

Tempat yang biasa disingkat Monas ini merupakan monumen peringatan setinggi 132 meter yang terletak di Jakarta Pusat, tak jauh dari Istana Negara, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan bangunan bersejarah lainnya.

Monas mulai dibuka untuk umum pada Juli 1975, didesain berdasarkan konsep pasangan yang abadi; Lingga dan Yoni, yaitu lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi.

Patung Pancoran

Monumen Patung Dirgantara atau yang lebih populer dengan nama Patung Pancoran adalah salah satu monumen yang paling terkenal di Jakarta yang resmi berdiri sejak 1966. Monumen ini terletak di Pancoran, Jakarta Selatan, wilayah yang dilewati para komuter dari Depok, Bogor, dan Bekasi.

Patung ini melambangkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara, menekankan pada kejujuran, keberanian, dan semangat, yang dibutuhkan untuk membawa Indonesia mencapai keperkasaan.

—Rappler.com

Sumber foto: Ars Magica Arteficii, Kaskus.co.id, Wikicommons, My English Club, Global Trans Holiday