Kisah Charles Saerang pertahankan pabrik jamu Nyonya Meneer

Lelang aset PT Nyonya Meneer dijadwalkan pada 26 September

Fariz Fardianto

8:13:53am September 13, 2017

8:13:53am September 13, 2017

RAGAM PRODUK. Beragam produk produsen jamu PT Nyonya Meneer. Foto: PT Nyonya Meneer

RAGAM PRODUK. Beragam produk produsen jamu PT Nyonya Meneer. Foto: PT Nyonya Meneer

SEMARANG, Indonesia – Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Ungkapan tersebut sangat cocok untuk menggambarkan kondisi yang dialami pengusaha Charles Saerang sekarang.

Perusahaan jamu yang dia pimpin, PT Nyonya Meneer, dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang pada 3 Agustus 2017 karena gagal membayar utang sebesar Rp 110 miliar.

Aset perusahaan pun sudah disita untuk dilelang dalam waktu dekat ini. Uang hasil lelang akan dipakai untuk membayar utang perusahaan.

Endang Permata, salah satu orang dekat Charles, mengatakan manajemen telah berusaha keras agar Nyonya Meneer tidak dinyatakan bangkrut. Charles, kata Endang, sempat mengontak dirinya untuk menggelar pertemuan dengan para kreditor.

"Saya sendiri berat rasanya Nyonya Meneer dipailitkan. Lha wong saya yang dari awal mengelola (PT) Taman Djamoe (Indonesia), dari tumbuhannya masih kecil-kecil, sampai sudah besar-besar. Sayang sekali, apalagi banyak tumbuhan langka yang jadi warisan dunia," kata Endang saat berbincang dengan Rappler pada Selasa, 12 September.

PT Taman Djamoe Indonesia (TDI) mengelola ribuan hektar halan tanaman obat sebagai kekayaan alam Indonesia di Jawa Tengah. 

"Yang bikin hati saya nggregel lagi, dua hari sebelum vonis pailit, ibunya Pak Charles meninggal dunia di Jakarta. Makanya saya sedih mendengar kabar pailit dan pelelangan aset dalam waktu dekat," kata Endang dengan suara terbata-bata.

Endang mengaku kasus kepailitan yang menjerat Nyonya Meneer sebenarnya merupakan sebuah antiklimaks. Dirinya pernah ikut rapat yang membahas utang-utang yang menumpuk.

"Nyonya Meneer terbelit utang itu pas bagian keuangannya dipegang adiknya Pak Charles yang tinggal di Australia. Pas dipegang adiknya, banyak pembayaran yang nunggak. Tagihan-tagihan sangat banyak. Kemudian dipegang lagi sama Pak Charles. Kondisinya sempat bagus. Utang mulai dibayar, termasuk membayar tagihannya Pak Hendrianto Bambang Santoso, kreditur dari Nguter Sukoharjo," tambahnya.

Hendrianto adalah salah satu kreditor yang menggugat pailit Nyonya Meneer. Endang tidak menyebutkan jumlah utang Nyonya Meneer kepada Hendrianto. Namun dia yakin hanya sebagian kecil yang sudah dibayar.

Menurut Endang, Charles tak bisa tahu persis berapa banyak tagihan yang menunggak hingga saat ini. "Total tagihannya yang tahu ya adiknya Pak Charles," kata Endang tanpa menyebut nama adik bos jamu tersebut.

Endang meminta pemerintah menyelamatkan Taman Djamoe.

"Ini kan sesuai amanah neneknya Pak Charles yang ingin bangun taman obat herbal supaya berguna bagi masyarakat luas," kata Endang.

Menurut Endang, Nyonya Meneer tidak sendirian dalam mengelola Taman Djamoe. Beberapa pihak lain juga punya kepentingan mengelola taman berbasis eduwisata tersebut.

Lebih jauh, ia menuturkan bahwa peran Taman Djamoe sejak lama cukup penting bagi Nyonya Meneer lantaran mampu mendatangkan pundi-pundi uang yang sangat besar.

Ia menyebut dalam rentang waktu Januari-Juni 2017 tingkat kunjungan ke taman tersebut masih sangat tinggi. Dalam sebulan saja, ia menghitung ada 300-400 orang.

Tidak hanya itu. Setelah disegel kurator, ia menyatakan masih banyak turis yang ingin berkunjung ke Taman Djamoe.

"Tapi semua orderan untuk bulan Agustus sampai Oktober terpaksa dibatalkan. Uang tiket (yang sudah) masuk akan kami kembalikan. Mau gimana lagi, wong sudah disegel," sergahnya.

Ia berpendapat Taman Djamoe dikenal jadi lokasi favorit keluarga Charles Saerang untuk melepas penat. Charles juga sempat menggelar rapat bersama direksi Nyonya Meneer di sana hanya sehari sebelum vonis pailit dikeluarkan pengadilan.

"Beliau memang suka mampir ke Taman Djamoe karena punya kedekatan emosional," sambungnya.

Ia berharap kepada peran serta pemerintah kabupaten maupun Provinsi Jateng untuk terlibat menyelamatkan Taman Djamoe. Minimal, ia menambahkan, pemerintah bisa menyelamatkan aset Taman Djamoe sebelum dilelang pada 26 September nanti.

"Ada 20 pegawai yang menganggur. Toh di sana banyak tanaman langka. Kan bisa dikenalkan kepada anak sekolah yang tidak banyak tahu soal tanaman jamu berkhasiat tinggi."

Jamu Nyonya Meneer didirikan pada 1919. Charles merupakan generasi keempat keturunan Law Ping Nio alias Ibu Menir, pendiri perusahaan. – Rappler.com

BACA JUGA:

Produsen jamu PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit

Kisah para buruh jamu Nyonya Meneer menuntut upah yang belum dibayar

Kerinduan warga Semarang terhadap jamu Nyonya Meneer