Cara mudah atasi perubahan iklim? Makan seafood

Mengatasi perubahan iklim salah satunya bisa dengan menghargai orang-orang yang memproduksi bahan makanan kita yang berasal dari laut

Rappler.com

4:51:54pm September 6, 2017

4:51:54pm September 6, 2017

Nur San, seorang pekerja laut, membawa ikan ke daratan di Lewoleba, Nubatukan, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Perahukerabatnya baru saja kembali dari laut setelah 1 malam mencari ikan. Foto oleh Rodrigo Ordonez/Oxfam

JAKARTA, Indonesia — Tahukah Anda, bahwa hampir 3 miliar penduduk dunia memasak dengan cara yang tidak efisien? Akibatnya, praktek semacam ini telah menyumbang limbah makanan yang sangat besar setiap harinya.

Sampah dan limbah makanan ini juga berkontribusi terhadap perubahan iklim global akibat adanya asap yang dihasilkan dari pembakaran yang membuang emisi gas seperti karbon monoksida. Sayangnya, gas tersebut tidak dapat dikendalikan dan menjadi gas rumah kaca.

Padahal, kesepakatan iklim telah dibuat dan meminta kita semua sebagai penduduk dunia untuk turut menjaga lingkungan dengan tidak membiarkan kenaikan suhu tidak melewati 2 derajat Celsius.

Sebenarnya seberapa besar makanan kita menyumbang terhadap perubahan iklim dapat diketahui dari mengetahui dari makanan kita itu berasal. Secara rata-rata, jarak yang ditempuh untuk makanan kita—terutama pangan laut (seafood)—dari tempatnya di peternakan hingga sampai di piring kita adalah 1.200 kilometer.

Pangan laut memiliki rantai pasok yang sangat panjang dan melibatkan banyak pihak di dalamnya dan menuntut perhatian ekstra yang turut menyumbang karbon dari aktivitas pengolahan dan pendinginan melalui gudang es agar mencegah terjadi kebusukan. 

Oleh karena itu, mengatasi perubahan iklim juga dapat dilakukan dengan menghargai orang-orang yang memproduksi bahan makanan kita yang berasal dari laut. Dengan menghormati nelayan atau pekerja perikanan yang merupakan orang yang paling berkeringat menghasilkan seafood, membuang-buang makanan sangat tidak diperkenankan. 

Di sisi lain, hampir setengah dari semua bahan makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang setelah dihasilkan—terbuang ketika dalam pengolahan, pengangkutan, terbuang di supermarket dan di dapur-dapur kita. 

Ketika orang-orang membuang makanan, semua sumber daya yang diperlukan untuk berbudidaya, mencari ikan di tengah laut, melakukan pengiriman, mendinginkan seafood agar tetap segar baik di peti es waktu pengiriman, atau ketika menghias rak-rak supermarket yang perlu banyak pendingin, hingga dibawa ke rumah dan dimasak hingga tiba di meja makan kita, ikut terbuang juga termasuk menyia-nyiakan air.

Jadi, sudah paham pentingnya tidak membuang-buang makanan demi keberlangsungan lingkungan? —Rappler.com