Hari Ayah Nasional: Kenangan bersama Bapak

Tulisan ini adalah salah satu pemenang kompetisi menulis dalam rangka Hari Ayah Nasional yang Rappler adakan

Fakhri Naufal

3:47:14am November 12, 2017

3:48:1am November 12, 2017

Sudah pukul 17:15 WIB, seorang siswa SMA di salah satu kota Bandung itu masih berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Waktu bubar pelajaran sudah dari 15 menit yang lalu. Sekolah sudah mulai cukup sepi, meski masih ada beberapa siswa di kantin. Bolak balik ia menoleh kanan kiri, ia mencari sesuatu, menunggu seseorang. Menyerah, akhirnya ia pergi dari situ.

*

“Ri, duluan, ya.” kata seorang bapak berkumis cukup tebal itu kepada lelaki terakhir yang ada di lapangan. “Iya, Pak. Hati-hati.” Balas lelaki itu, dengan sedikit kecemasan dalam hatinya dan tentu saja pada wajahnya. Ia melirik jam di tangannya, sudah hampir magrib. Langit sudah gelap karena mendung sejak pukul 15:00. Tapi, kini gelap itu adalah gelap malam. Ia masih di situ, ia menunggu sesuatu, menunggu seseorang. Yang ditunggu akhirnya tiba 30 menit kemudian.

*

Selepas pulang Praktek Kerja Lapangan, ia bergegas keluar dari bengkel tempat ia magang. Tidak banyak percakapan seperti biasanya yang dilakukan dengan para seniornya. Pukul 17.00 bel tanda pulang berdering, ia langsung mencuci tangan, berganti pakaian dan langsung menuju tempat motornya diparkir. Ritual pulang cepat ini sudah ia lakukan selama sebulan belakangan. Ia mengejar sesuatu, mengejar seseorang untuk ditemui. 

*

Tiga peristiwa di atas hanyalah sedikit peritiwa yang masih terngiang yang dialami si anak laki-laki bernama Fakhri dengan Bapaknya sebelum wafat.

Jika ditanya siapa yang lebih sering menjadi tempat bercerita, Ibumu atau Bapakmu, maka pilihan pertama adalah jawabannya. Sebagai seorang lelaki saya justru lebih nyaman untuk mencurahkan semua keluh kesah kepada Ibu. Bapak bukanlah orang yang asyik untuk diajak bercerita, mungkin itulah alasannya. Seumur-umur bercerita pada Bapak, Bapak sangat jarang memberi masukan atau jawaban atas curhatan saya. Ia lebih cocok menjadi seorang pendengar yang baik. Hal itulah yang kemudian menurun kepada saya sebagai anaknya.

Bapak memang bukan orang yang bisa diandalkan sebagai tempat curhat, tapi Bapak adalah orang yang tepat jika ingin belajar tanggung jawab dan pengertian itu seperti apa. Bapak adalah orang yang memegang betul janjinya dan sebisa mungkin akan menunaikannya. 

Sepenggal cerita di awal paragraf adalah salah satu bukti absah ketika Bapak sudah berjanji akan selalu menjemput saya pulang sekolah setiap hari Sabtu. Ketika itu, saya sudah lelah menunggu, saya kira Bapak tidak jadi menjemput saya. Bapak juga tidak pernah sengaret ini sebelumnya. Jadi, saya putuskan pulang sendiri. 

Sesampainya di rumah, seketika saya mengetahui bahwa Bapak ternyata jadi menjemput saya. Bapak marah, “Kalau Bapak udah janji jemput, tunggu aja, pasti datang." 

Begitu ucapnya ketika akhirnya Bapak juga tiba di rumah. Kejadian itu tidak terjadi sekali-dua kali, walakin berulang kali. Tapi, Bapak tidak pernah benar-benar marah. Seberapa seringpun dikecewakan dan diberi harapan palsu, Bapak tidak pernah bosan untuk kembali menjemput saya.

Peristiwa paling membekas bersama Bapak adalah ketika menemani Bapak di rumah sakit. Saat itu bulan Ramadan dan saya sedang Praktek Kerja Lapangan. Waktu pagi bagian Ibu atau kakak yang menjaga Bapak. Sore hingga besok pagi baru jatah saya. 

Bapak stroke sejak awal Ramadan, selama hampir satu bulan di rumah sakit tidak banyak percakapan yang bisa kami lakukan. Satu-satunya yang diingat adalah ketika akan berangkat PKL, Bapak menatap saya, mulutnya bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Setelah berkali-kali berusaha, akhirnya saya mengerti yang dimaksud Bapak. 

Bapak berkata: "Mau ke mana?" Seingat saya itu adalah kalimat pertama yang dilontarkan Bapak pada saya selama di rumah sakit.

Ketika mendengar kabar Bapak diizinkan pulang, saya senang bukan kepalang. Melihat Bapak di rumah, rasa optimis akan kesembuhan Bapak jauh lebih besar ketika Bapak di rumah sakit. Ada aura segar di wajah Bapak yang tidak pernah didapat ketika berada di rumah sakit. 

Di rumah, Bapak menjadi lebih ada gairah, semangatnya muncul karena sekarang seluruh anaknya bisa memberi dorongan secara langsung. Pernah sewaktu ramadan akan berakhir, Ibu bertanya Bapak ingin apa. Bapak kemudian menjawab, “Ingin cepat sembuh, biar bisa salat Ied bersama-sama lagi." 

Sontak, kejadian itu membuat air mata kami jatuh.

Tapi, Tuhan punya skenario lain. Perkembangan Bapak yang kami kira mendekati kesembuhan, ternyata adalah jalan lain untuk bertemu Tuhan. Tuhan sepertinya kasihan jika Bapak terus menerus menahan rasa sakit yang dideritanya. Hari itu, 28 Agustus 2012, pukul 21:00 hembusan nafas Bapak untuk terakhir kali menghangatkan seisi ruangan yang dingin. 

Saya, Ibu, dan kakak yang sudah sejak pukul 20:00 membaca ayat-ayat Al-Qur’an serta adik-adik saya yang mengelilingi kasur Bapak tak kuasa melepas tangis. Tangis yang kami tahu akan selalu bermuara pada satu alasan.

Bapak adalah orang yang lebih suka memberi contoh lewat tindakan dibanding ucapan. Bapak rajin datang ke masjid untuk mengaji. Hanya sedikit mungkin Bapak harus terpaksa absen karena alasan yang tidak bisa ditinggalkan. Urusan salat juga tidak usah ditanya seperti apa Bapak menjaganya. Itu juga nampaknya yang diwarisi kami selaku anak-anaknya, tanpa pernah disuruh oleh Ibu untuk salat atau pergi mengaji ke masjid, saya, kakak, dan adik dengan inisiatif mencontoh apa yang dilakukan oleh Bapak sewaktu masih hidup.

Bapak pasti sudah tenang di alam yang lain, mengamati anak-anaknya tumbuh dari sebuah tribun paling damai di sisi-Nya. 

Selamat hari Bapak, Pak! Semoga doa yang kami berikan senantiasa sampai padamu. —Rappler.com

Kenangan Bersama Bapak adalah pemenang kompetisi menulis dalam rangka Hari Anak Nasional yang Rappler adakan.