Sketsatorial: Mengubah persepsi kampung agar tidak ketinggalan zaman

Kampung sering dianggap negatif, tapi dengan visi yang benar, kampung dapat bertransformasi menjadi bermanfaat bagi warganya

Rappler.com

6:33:50am December 15, 2017

6:33:50am December 15, 2017

JAKARTA, Indonesia — Dalam istilah pembangunan kota, kata “kampung” sering diasosiakan negatif seperti ketertinggalan, kumuh, dan infrastruktur yang buruk. 

Kini semakin banyak upaya mengubah pandangan tersebut dan mengajak masyarakat melihat lebih jeli potensi kampung kota untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. 

Bagaimana perkembangan kampung saat ini? Simak uraiannya di Sketsatorial Rappler Indonesia.

Dalam tatanan kota, kampung adalah entitas sosial yang sarat nilai identitas dan budaya yang terikat dalam konteks keruangan. Kita bisa memaknai bahwa kampung kaya akan social capital; dan dengan penguatan kapasitas mampu mengarah pada kebermanfaatan bersama.

Dalam kerangka kampung kreatif, warga berdaya adalah aktor penting dalam pengelolaan aset dan potensi kampung yang memberikan nilai tambah pada kampung. 

Beberapa lensa kampung kreatif adalah sebagai berikut: 

1. Kampung unggulan untuk pengembangan produk ekonomi lokal dari beragam sektor, seperti fesyen (contoh: batik, blangkon), kuliner (contoh: Kue Apem Solo, Lumpia Semarang, Bakpia Jogja), kerajinan tangan dan kriya (contoh: perak Kota Gede, tas dan sepatu kulit Bandung). 

Perspektif ini melihat potensi suatu barang atau jasa yang dapat diproduksi dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai satu identitas. Dengan mengenalkan identitas dan keunikan kampung, inisiatif ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga.

2. Kampung hijau sebagai solusi dari komunitas untuk menyiasati keterbatasan lahan. Usaha-usaha penghijauan menjadi alternatif bagi kampung kota untuk berkreasi meningkatkan kualitas lingkungan kampung menjadi lebih nyaman, bersih, dan layak huni. Inovasi kampung juga bisa menguatkan kemandirian masyarakat dalam upaya ketahanan pangan. 

3. Mengelola kampung kota sebagai destinasi wisata berbasis pengelolaan masyarakat. Inisiatif baik seperti desain ulang beberapa sisi kampung, mendokumentasikan narasi dan sejarah kampung, serta dinamika keseharian warga, dan peningkatan nilai estetika dapat mendukung potensi sebuah kampung. Namun inisiatif ini tidak bisa berakhir hanya di perbaikan kulit luar, segala proses harus mengikutsertakan warga kampung sebagai aktor utama dan memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga.

Kampung kreatif dan usaha pelestariannya harus berjalan bersama dengan warga sebagai aktor dan konseptor utama, jangan sampai kampung berakhir sebagai ikon kota semu yang lambat laun terlupakan oleh waktu. 

Lalu bagaimana melihat dan mengupas fenomena kampung kreatif secara lebih kritis dan mendalam dalam konteks penguatan masyarakat kota? Ikuti diskusinya dan berbagai isu dan solusi perkotaan lainnya di The 5th Urban Social Forum. Acara akan diselenggarakan di Bandung 16 Desember 2017 di SMAN 3 Bandung. Forum ini gratis dan terbuka dengan registrasi di www.urbansocialforum.or.id. —Rappler.com

Sketsatorial adalah kolom mingguan Rappler tentang isu-isu penting yang dibahas dengan menggunakan video sketsa, dan dibuat oleh Iwan Hikmawan. Follow Iwan di Twitter @Sketsagram.