Kisah tiga penyandang disabilitas yang pernah depresi dan mencoba bunuh diri

Cerita tiga perempuan inspiratif yang tetap mengejar mimpi di tengah keterbatasan

Ari Susanto

3:28:13am December 29, 2017

3:28:13am December 29, 2017

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti, 18 tahun, atlet renang paralympic nasional. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti, 18 tahun, atlet renang paralympic nasional. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

SOLO, Indonesia — Tiga tahun lalu, Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti pernah terpuruk dalam situasi yang paling sulit dalam hidupnya. Perenang muda yang meraih dua medali emas dan memecahkan rekor di ajang ASEAN Paralympic Games 2017 di Kuala Lumpur itu sempat mengalami depresi saat merintis jalan menjadi atlet profesional.

Menekuni renang sejak duduk di bangku kelas 3 SD, Laura punya segudang prestasi di berbagai kejuaraan tingkat kota dan provinsi. Menginjak remaja, ia mulai membidik target menjadi perenang nasional yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) dan SEA Games. 

Namun semangatnya untuk meraih mimpi mendadak pupus. Laura mengalami kelumpuhan akibat keretakan pada tulang punggungnya yang tak ia sadari saat jatuh terduduk di teras kamar mandi mess atlet saat mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) di Semarang. 

Sayangnya, cedera itu tak terdeteksi sejak awal. Setelah jatuh, Laura masih mampu beraktivitas fisik seperti biasa. Siswi SMA Negeri 1 Surakarta itu tetap berlatih renang dan berlari mengelilingi Stadion Manahan Solo sebanyak 12 putaran.

Sebulan setelah cedera, Laura baru merasakan kesakitan pada tulang punggung dan tidak bisa berjalan. Pemeriksaan medis menyebutkan tulang lumbar tepat di atas tulang ekornya lepas. 

Dokter memvonis cedera itu terlambat untuk ditangani. Laura seketika merasa mimpinya untuk menjadi atlet nasional pupus. Di usia masih belia, 15 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan fungsi kedua kakinya.

Karena depresi berat, Laura sempat mencoba bunuh diri. Namun upayanya selalu gagal karena ia tak kuasa bangkit dari tempat tidur untuk meraih tali gantungan.

“Saya putus asa dan berpikir ingin mengakhiri hidup. Biasanya aktif kemana-mana, lalu sehari-hari saya hanya terbaring di tempat tidur tak bisa melakukan apa-apa,” ujar Laura.

Butuh waktu setahun untuk memulihkan dan memupuk kembali semangat hidupnya. Ibunya merupakan sosok yang selalu memotivasi Laura agar tetap punya harapan demi masa depannya yang masih panjang.

Perlahan, Laura belajar untuk menerima takdir Tuhan dan berusaha untuk memulai membangun asa. Ia akhirnya menyadari bahwa kursi roda tak boleh membatasi upayanya meraih mimpi. Ia memutuskan ingin menjadi atlet paralympic.

Laura memacu dirinya untuk terus maju. Setiap hari, minimal dua jam ia habiskan di kolam renang untuk berlatih. Tantangan pertama kali yang ia hadapi adalah mengayuh badan di dalam air hanya dengan mengandalkan kedua lengannya saja, tanpa kekuatan dorongan kedua tungkai kaki.

Ia mengalami kesulitan, tetapi tidak menyerah dan terus mencoba. Perlahan tetapi pasti, gadis yang kini sedang menempuh program sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM)—diterima lewat seleksi jalur prestasi—menemukan kembali kecepatannya di dalam air.

“Saya waktu itu hanya berpikir saya harus bangkit kembali, mengalahkan keterbatasan, dan saya harus bisa,” ungkapnya.

Talenta dan prestasi Laura membuat National Paralympic Committee (NPC) merekrutnya untuk bergabung dalam pelatnas di Solo untuk ASEAN Paralympic Games 2017 di Malaysia dan Asian Paralympic Games 2018 di Indonesia.

Depresi akibat kebutaan

Akmala Hadita, dosen dan perempuan tuna netra pertama di Indonesia peraih gelar doktor. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Akmala Hadita, dosen dan perempuan tuna netra pertama di Indonesia peraih gelar doktor. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Kisah serupa juga dialami Akmala Hadita yang kehilangan penglihatan sejak remaja akibat kecelakaan sepeda motor. Ia frustasi tak bisa mengikuti ujian akhir sekolah dan merasa masa depannya suram. 

Akmala memutuskan untuk bunuh diri. Segala cara ia coba untuk mengakhiri hidupnya, namun ajal tak juga menjemputnya.

Ia pernah mencoba menabrakkan diri ke kereta api, menyebrang di jalan raya, dan meminum racun. Namun, setiap kali ia mencoba bunuh diri, selalu saja ada orang yang berhasil menyelamatkannya. 

“Saya depresi. Biasanya bisa melihat, bisa kemana-mana, terus enggak bisa ngapa-ngapain. Apalagi waktu itu saya masih kelas 3 SMA, masih senang kumpul dan main bersama teman,” ujar Akmala.

Perempuan kelahiran Bandung, 48 tahun lalu itu, akhirnya memilih bangkit dengan dorongan keluarga, teman, dan orang-orang terdekatnya. Akmala memutuskan untuk tinggal di sebuah yayasan khusus tuna netra di Bandung. 

Ia akhirnya meneruskan pendidikan dan berhasil menyelesaikan program sarjana. Akmala menjadi perempuan tuna netra pertama di Indonesia yang meraih gelar doktor dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dengan spesialisasi di bidang pendidikan luar sekolah, ia kini menjadi dosen tetap di Universitas Garut.

Alhamdulillah. Untung saya dulu selalu gagal bunuh diri ternyata ada hikmah di balik semua itu,” katanya.

Akmala, yang telah menikah dan memiliki dua anak itu, kini nyaris tak mengalami kesulitan menjalani hari-harinya. Ia bisa mencapai lantai dua di gedung tempatnya mengajar dengan menaiki tangga tanpa bantuan. Ia juga mampu mengenali keberadaan mahasiswanya di kelas, meski ia tak bisa melihat wajah mereka.

“Seperti orang tuna netra pada umumnya, saya diberkahi dengan perasaan yang tajam. Saat mengajar, misalnya ada mahasiswa bolos, tiba-tiba saya menanyakan namanya di depan kelas,” kisahnya.

Anak yang terbuang

Priskilla Smith Jully, tuna netra pendiri School of Life bagi orang-orang yang terbuang. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Priskilla Smith Jully, tuna netra pendiri School of Life bagi orang-orang yang terbuang. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Cerita lain datang dari Priskilla Smith Jully, pendiri School of Life Semarang, yayasan yang menampung orang-orang yang terbuang dan kurang beruntung. Di balik kisahnya yang inspiratif, perempuan yang biasa disapa Priska ini punya cerita pilu sejak kecil.

Priska adalah anak yang tak diinginkan keluarga. Sejak berada di dalam kandungan, sang ibu berusaha menggugurkan janinnya dengan berbagai cara karena menganggap jarak kehamilannya terlalu dekat.

Apalagi, orangtuanya sangat mendambakan anak laki-laki, bukan perempuan. Namun, kenyataannya Priska bertahan dalam kandungan dan akhirnya terlahir dalam kondisi tuna netra.

Saat usia kanak-kanak, Priska tak sadar bahwa dirinya punya keterbatasan. Orangtuanya sendiri tak pernah memberi tahu bahwa dirinya tak bisa melihat sejak lahir.

“Waktu kecil, saya tidak paham kalau saya berbeda. Saya kira, semua orang lahir seperti saya, tidak bisa melihat,” kenangnya.

“Saya mulai bertanya kenapa teman-teman kalau berjalan tidak jatuh sementara saya sering jatuh. Orangtua saya bilang itu wajar. Tetapi, ada tetangga yang memberi tahu, saya jatuh karena saya berbeda, saya tidak bisa melihat dan yang lain bisa,” lanjut Priska.

Priska merasa diacuhkan orangtuanya, “tak dianggap” dalam keluarga, dan seringkali mengalami perlakuan diskriminatif. Keinginannya untuk bersekolah tak pernah direspon orangtua.

Ia pun mendaftar sendiri sekolah ke sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) dan harus berjualan kue untuk membiayai sekolahnya. Malangnya, Priska sakit parah sehingga tak bisa bekerja dan belajar lagi di SLB. Ia putus sekolah saat duduk di kelas 5 SD.

Perempuan kelahiran Jambi 40 tahun lalu itu merasa terbuang. Ia akhirnya merantau ke berbagai daerah sejak anak-anak, jauh dari pengawasan orangtua.

Ia hidup berpindah dari kota ke kota, seperti Medan, Jakarta, dan Bandung. Untuk menyambung hidupnya, ia mengerjakan segalanya dari berjualan kue, berjualan baju, menjadi buruh di pabrik tas, hingga menjadi penyanyi kafe. 

“Saya pernah berjualan baju di kaki lima. Ada pembeli yang menawar harganya keterlaluan murah, saya nggak bisa kasih, dia marah dan melempar baju ke muka saya sambil memaki-maki karena saya buta,” tutur Priska.

Tekanan yang berat dalam hidupnya akibat keterbatasannya membuat Priska frustasi. Ia beberapa kali berusaha bunuh diri dengan menyayat urat nadi di pergelangan tangan kirinya. Namun, upayanya selalu gagal karena ia berhasil diselamatkan orang-orang di sekitarnya.

Titik balik dalam kehidupannya terjadi saat ia pergi ke gereja. Priska akhirnya sadar, apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan. 

Tahun 2004, ia mengikuti sebuah pelatihan motivasi di Semarang. Di tempat itu, ia bertemu Tommy Barnett, seorang warga Amerika Serikat yang merintis rumah penampungan untuk orang terbuang bernama Dream Center di negara asalnya. 

Pertemuan itu membuat Priska terinspirasi dan bermimpi untuk bisa berbagi dan membantu orang-orang yang terbuang semacam dirinya, seperti orang-orang cacat, depresi, dan tak punya keluarga.

Mimpi itulah yang akhirnya memotivasinya untuk mendirikan School of Life. Ia bersama suaminya kini menghidupi dan merawat sekitar 100 orang yang kurang beruntung di lembaga sosialnya itu.

“Kami tidak membeda-bedakan suku, latar belakang, agama, dan sebagainya. Mereka yang terbuang kami tampung, kami didik agar mandiri,” ucap Priska. —Rappler.com