Bedanya cara merayakan tahun baru Generasi X dan Z

Generasi Z sudah mempersiapkan segalanya, tapi Generasi X malah belum kepikiran sama sekali

Fanny Sara & Dwi Agustiar

10:0:0pm December 30, 2017

3:17:37am December 31, 2017

Ilustrasi oleh Tri Asrie Khalidya/Rappler

Ilustrasi oleh Tri Asrie Khalidya/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Tahun baru 2018 sudah di pelupuk mata, kebanyakan masyarakat sudah menyiapkan rencananya untuk merayakan saat-saat pergantian tahun dengan cara yang spesial.

Katty Simanjuntak salah satunya. Siswi kelas 2 SMA ini berencana merayakan tahun baru di Puncak, Cisarua, Jawa Barat. Beserta keluarganya, ia sudah menyewa sebuah vila di Puncak.

Pada malam pergantian tahun baru, hal yang paling ditunggunya adalah bermain kembang api dan melihat letupan-letupan kembang di langit malam.

“Kalau main kembang api, aku kayak flashback lagi ke masa kecil. Apalagi kalau main kembang apinya sama keponakan yang masih kecil-kecil. Mereka pasti heboh banget minta kembang api terus pengin nyalain sendiri,” kata Katty.

Demi menyemarakkan tahun baru, Katty mengaku telah menyiapkan segalanya mulai dari pakaian, hiasan pernak-pernik seperti terompet dan topi kerucut, makanan, hingga mainan yang akan dibawa seperti kartu UNO, domino, dan monopoli.

Menurutnya, kebersamaan keluarga ini sudah menjadi tradisi tiap tahun. Keluarganya selalu memilih ke Puncak untuk menghindari kemacetan di Jakarta. Sehingga dua hari sebelum tanggal 31 Desember, mereka sudah “mengungsi” ke Puncak.

“Kalau di Jakarta enak, pasti banyak event konser musik menjelang pergantian tahun baru. Tapi kalau di Puncak justru lebih enak lagi karena pemandangan dan suasananya yang disukai,” kata Katty.

“Kalau udah sewa vila kan bisa bakar-bakar ayam, barbecue, sama besok paginya bisa berenang. Bangun-bangun pemadangannya sejuk dan yang terutama adalah enggak panas kayak di Jakarta,’’ ucapnya.

Selain itu, sebagai seorang Batak, Katty menjelaskan bahwa dalam sukunya, ada tradisi di mana setiap pergantian tahun baru, tepat pukul 12 malam, ada yang namanya mandok hatta (menyampaikan kata) di keluarga. Mandok hatta ini merupakan acara ibadah bersama. Kemudian setelah selesai beribadah, anak paling kecil di keluarga tersebut harus mengungkapkan isi hatinya selama setahun ke belakang, seperti permintaan maaf, perubahan sikap pada tahun mendatang, beserta harapan dan impiannya. 

Semua itu diungkapkan di depan keluarga, sehingga semua saling terbuka satu sama lain dan memaafkan. 

“Sudah pasti kalau malam tahun baru itu banyak yang begadang ya, apalagi nanti pas mandok hatta. Jadi udah disiapin makanan besar. Biasanya itu selalu ada buah durian kalau tahun baru, kalau yang enggak suka durian pasti mereka bakar-bakar. Pokoknya kalau tahun baru itu bebas makan apa aja karena banyak makanan,” kata Katty sambil tersenyum.

Generasi X: Apa yang dirayakan saat ganti tahun?

Lain Katty yang berasal dari kalangan Generasi Z (yang terlahir tahun 2000 ke atas), lain pula Tomi, seorang pria berusia 40 tahun.

Tomi, yang termasuk golongan Generasi X (yang terlahir dalam periode 1961 hingga 1981), mengatakan belum melakukan persiapan apa pun untuk merayakan malam pergantian tahun baru ini.

“Malas juga mau ke mana-mana, karena pasti macet,” kata Tomi. “Nanti bukannya senang-senang malah jadi stress.”

Berbeda dengan Katty yang sudah menyiapkan mulai dari pakaian, makanan, aksesoris, hingga mainan, Tomi lebih memilih kesunyian.

Ia mengatakan, sejak menikah sepuluh tahun lalu, dirinya jarang sekali merayakan malam pergantian tahun di luar rumah. Biasanya ia hanya menikmati momen bergantinya kalender bersama keluarga di rumah.

“Lebih hangat merayakan tahun baru di rumah, meski hanya sekadar membakar ayam atau ikan,” katanya. 

Selain itu, ia menambahkan, “Pastinya juga lebih hemat.”

Tomi mengatakan dirinya juga tidak tahu apa yang sebenarnya dirayakan saat pergantian tahun. Karena, menurutnya, berganti tahun berarti bertambah umur dan itu berarti semakin menua.

“Mungkin lebih pas kalau kita merayakannya sambil mengevaluasi apa saja kekurangan kita di tahun ini,” katanya. —Rappler.com 

BACA JUGA: Merayakan tahun baru di usia 20an