Suka duka Suryanto 15 tahun berjualan terompet tahun baru

Pria ini sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan. Ia hanya menjual terompet pada akhir Desember saja tiap tahunnya

Fanny Sara

11:0:0pm December 30, 2017

4:21:51pm December 30, 2017

Barang dagangan Suryanto, si penjual terompet tahun baru, di pinggir jalan raya Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 28 Desember 2017. Foto oleh Fanny Sara/Rappler

Barang dagangan Suryanto, si penjual terompet tahun baru, di pinggir jalan raya Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 28 Desember 2017. Foto oleh Fanny Sara/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Suatu siang menjelang sore di penghujung tahun 2017 itu, Suryanto duduk berjongkok di depan sebuah kios di pinggir jalan. Ia tengah beristirahat setelah berjam-jam berjalan kaki menjajakan terompet tahun baru.

Sampai siang itu, ia sudah menjual 10 buah terompet. Biasanya dalam sehari, ia bisa menjual 20 hingga 25 buah terompet. Tapi hari masih panjang.

Menurutnya, penjualan terompet tahun ini lebih sepi dibanding tahun lalu. Namun meski sepi pembeli, ia tetap berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

“Ya kalo di sini sepi, entar jalan lagi keliling. Ini aja sudah dari tadi belum ada yang beli, jalanan juga sepi. Biasanya saya keliling dari rumah ke Pasar Induk [Kramat Jati] ke Kampung Makassar [di Jakarta Timur] terus pulang lagi,” kata Suryanto.

Pria asal Solo ini sudah 15 tahun berjualan terompet. Sehari-hari ia bekerja sebagai seorang kuli bangunan di daerah Jakarta Timur. Karena berjualan terompet merupakan pekerjaan musiman, ia meminta izin dari tempatnya bekerja selama 10 hari untuk melakukan pekerjaan sampingannya itu.

Waktu libur itu ia gunakan untuk berjualan terompet dari 20 Desember hingga 1 Januari setiap tahunnya.

Tiap pagi, ia mulai berkeliling perumahan di daerah Jakarta Timur pukul 08:00 WIB. Siangnya, ia berjualan di pinggir jalan raya besar.

“Kalau pagi-pagi enggak boleh jualan di sini [pinggir jalan besar, -red], kita diusir sama Satpol PP. Jadi nunggu siang dulu baru bisa jualan di pinggir jalan raya,” kata Suryanto di Pasar Induk Kramat Jati.

“Di sini aja biasanya banyak orang yang berjualan terompet, berbaris jualan. Tapi tahun ini enggak ada. Cuma dua orang doang yang berjualan,” ucap Suryanto.

Baginya, daripada menganggur lebih baik ia gunakan waktu sengganggnya mencari uang makan sendiri. Menurutnya, berjualan terompet merupakan sebuah pekerjaan yang relatif santai, sehingga di usianya yang sudah mencapai 45 tahun, ia masih bisa beristirahat di malam hari dengan cukup.

Namun, melihat gelagat sepinya pembeli terompet tahun ini, ia sangat berharap agar pada malam pergantian tahun nanti, tidak turun hujan. Jika hujan, ia tidak dapat berkeliling jualan, sehingga penjualannya pun akan semakin menurun.

“Enggak tahu, nih, nanti tahun baru ramai atau enggak, mudah-mudahan aja nanti enggak hujan dan ramai banyak orang. Karena kalau hujan kita enggak bisa jualan. Soalnya terompet kalau kena air gampang rusak,” ucapnya.

Lantas apa yang dilakukannya jika terompet jualannya tidak habis terjual semua? Ia mengatakan, biasanya terompet-terompet yang tidak terjual itu dibungkus plastik agar bisa dijual kembali pada tahun depan.

Hasil karya tangan sendiri

Pria yang memiliki 2 anak ini mengatakan, dalam sehari berjualan terompet ia bisa mendapatkan penghasilan Rp100 ribu, yang ia gunakan untuk uang makan dan bayar kontrakan. Ia harus berusaha mencukupkan semuanya untuk bertahan hidup di ibu kota. 

“Ya, cukup enggak cukup, harus dicukupin. Semuanya harus cukup buat uang makan, bayar kontrakan, ngirim uang ke kampung,” kata Suryanto. 

Suryanto membuat terompetnya sendiri, tidak membeli dari pihak ketiga. 

“Kalau ngambil dari orang lain, harga satu terompetnya itu Rp12 ribu. Kalau dijual Rp15 ribu, saya cuma dapat Rp3 ribu,” katanya.

“Jadi ya sudah, mendingan bikin sendiri. Ini kan hasil kerajinan tangan, jadi kita produksi sendiri,” tuturnya.

Modal yang ia keluarkan untuk membuat sebuah terompet sekitar Rp7 ribu hingga Rp8 ribu, sehingga keuntungan yang ia dapat dari hasil tangannya sendiri bisa lebih besar dari membeli terompet dari orang lain. —Rappler.com