Perjalanan meresahkan ke Aokigahara, ‘Hutan Bunuh Diri’ di Jepang

Hutan Aokigahara menjadi salah satu lokasi terpopuler di dunia untuk mengakhiri hidup. Jika kamu berjalan terlalu dalam, hutan itu seolah memanggilmu hingga kamu tersesat

Bla Aguinaldo

2:29:10pm January 3, 2018

2:31:27pm January 3, 2018

Lautan pohon di Hutan Aokigahara. Foto oleh Bla Aguinaldo

Lautan pohon di Hutan Aokigahara. Foto oleh Bla Aguinaldo

JAKARTA, Indonesia — Hutan Aokigahara, atau yang lebih dikenal sebagai “Hutan Bunuh Diri”, terletak di dasar barat laut Gunung Fuji. Media massa menyebut tempat ini sebagai salah satu lokasi bunuh diri terpopuler di dunia. The Japan Times melaporkan bahwa pada tahun 2010 saja, ada lebih dari 200 orang mencoba melakukan bunuh diri di Hutan Aokigahara—54 di antaranya “berhasil” menyelesaikan misi mereka.

Hutan ini juga dikenal dengan sebutan “Lautan Pohon”, karena pemandangannya yang indah dari kejauhan. Tapi ketika kamu memasukinya, segalanya berubah. 

Tempat ini sering disebut dalam budaya populer Negeri Sakura itu. Dua novel setidaknya telah membahas hutan ini dan menjadi bacaan yang banyak dibaca warga Jepang yang berpikir untuk bunuh diri.

Pada 1961, Seicho Matsumoto menulis novel berjudul Tower of Waves, yang mengisahkan sepasang pasangan muda memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka di Hutan Aokigahara. Pada 1993, Wataru Tsurumi menerbitkan buku bertajuk The Complete Manual of Suicide. Tsurumu menyebut Hutan Aokigahara sebagai “tempat paling sempurna untuk mati.”

Tapi jauh sebelum buku-buku ini diterbitkan, legenda Jepang mengatakan, Aokigahara merupakan tempat di mana para leluhur membawa orangtua mereka yang meninggal dunia karena kesulitan hidup akibat kemiskinan. Praktek ini disebut “ubasute”. 

Dari Tokyo ke Aokigahara

Gunung Fuji terlihat dari Hutan Aokigahara. Foto oleh Bla Aguinaldo

Gunung Fuji terlihat dari Hutan Aokigahara. Foto oleh Bla Aguinaldo

Perjalanan dari Tokyo menuju Aokigahara sebenarnya cukup mudah, tapi tetap harus melalui sejumlah rintangan.

Kamu bisa naik bus dari Shinjuku ke Stasiun Kawaguchiko. Dari sana kamu bisa naik bus jurusan Saiko menuju Ice Cave di samping Hutan Aokigahara. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa bertanya kepada penjaga stasiun perihal jadwal keberangkatan bus.

Ketika aku bertanya kepada seorang petugas stasiun mengenai jadwal keberangkatan bus menuju Ice Cave, ia langsung menunjukkan wajah cemas. Ibu itu bertanya dengan ekspresi khawatir, apakah aku bepergian seorang diri dan dari mana asalku.

Aku menjawab, aku bepergian dengan seorang teman, dan kami adalah pelancong dari Filipina. Aku sengaja bersikap girang dan tersenyum ketika menjawab pertanyaannya. Aku pernah mendengar cerita, jika kamu mengatakan kepada orang lain kamu akan pergi ke Hutan Aokigahara, mereka akan melarangmu dan mengatakan bahwa banyak roh-roh jahat di sana.

Ada juga yang bilang sopir bus tidak berhenti di stasiun terdekat Hutan Aokigahara jika mereka melihat kamu cenderung depresif dan kemungkinan besar akan mengakhiri hidupmu di sana.

Menjelajahi hutan

Sebuah papan di dalam hutan bertuliskan, 'Hidup adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh orangtua. Ingat mereka, saudara, dan anakmu. Jangan menderita sendiri. Bicaralah kepada kami.'

Sebuah papan di dalam hutan bertuliskan, 'Hidup adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh orangtua. Ingat mereka, saudara, dan anakmu. Jangan menderita sendiri. Bicaralah kepada kami.'

Tiba di hutan, aku langsung merasa tidak nyaman dikelilingi pohon-pohon berbaris rapat yang hampir menutupi cahaya matahari dan meredam suara-suara bising. Hutan ini tampak mengerikan, gelap, dan terlalu sunyi; seolah ada sebuah pintu tak terlihat yang menutupimu dari orang yang kamu ajak bicara.

Aku berjalan dengan langkah cepat karena kami hanya memiliki waktu sejam sebelum gelap. Setiap kali aku berhenti untuk beristirahat dan mengagumi keindahan hutan, aku langsung gelisah disebabkan kesunyian yang memekakkan telinga. Aku berjalan dengan langkah berat, supaya suara sepatuku bergema, seraya menemaniku berjalan dalam kesunyian. 

Rambu-rambu dengan nomor hotline terpajang di sepanjang jalan kecil di dalam hutan.

Rute terlarang

Rambu 'Dilarang Masuk' di dalam hutan. Foto oleh Bla Aguinaldo

Rambu 'Dilarang Masuk' di dalam hutan. Foto oleh Bla Aguinaldo

Di tengah jalan tapak itu ada sebuah rambu bertuliskan “Dilarang Masuk”. Tapi instingku berkata lain; aku langsung menerobos rute terlarang itu. Temanku awalnya ragu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengikutiku meski hanya beberapa meter saja.

Ia terdiam di suatu titik di mana ia masih bisa melihat rambu “Dilarang Masuk” tadi supaya kami tidak tersasar. Aku berkata kepadanya, aku akan menjelajahi rute terlarang ini dan memintanya untuk tetap mengobrol agar aku tidak tersesat.

Melangkah ke dalam, aku tidak bisa melihat temanku lagi akibat pohon-pohon raksasa yang menghalangi penghilatanku. Aku baru berjalan sekitar 5 menit, namun suaranya sudah tak terdengar lagi. Pada titik ini, semuanya terlihat sama. Sangat mudah untuk tersesat di dalam hutan. Aku sempat berpikir untuk menanggalkan jaket yang kukenakan dan barang-barang di dalam tasku di jalan sebagai penanda pulang.

Setelah berjalan selama beberapa menit lagi, aku mendengar suara burung dan sedikit terkejut dibuatnya. Tapi aku masih ingin menelusuri kedalaman hutan. Seakan-akan, hutan itu memanggil-manggilku membuatku terus masuk ke dalamnya.

Dari sudut pandang kanan mataku, ku melihat tali plastik terikat ke batang pohon di kedalaman hutan. Lalu kuteringat sebuah tulisan di Internet yang mengatakan, Hutan Aokigahara akan mencoba untuk menggodamu masuk dan membuatmu selalu ingin menelusurinya hingga kamu tersesat di dalamnya. Aku merinding teringat itu. Saat itulah aku memutuskan untuk kembali ke temanku.

Gadis misterius

Temanku khawatir aku tersesat. Ia mengambil foto ini jika saja kami tak bertemu lagi. Foto oleh Bla Aguinaldo

Temanku khawatir aku tersesat. Ia mengambil foto ini jika saja kami tak bertemu lagi. Foto oleh Bla Aguinaldo

Ketika aku dan temanku berjalan menuju jalan pulang, aku melihat seorang perempuan muda, seorang asing, bukan warga Jepang. Ia berdiri diam. Tangannya menyisir rambutnya. 

Aku dibuat takut melihatnya dan hampir saja lompat. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum, sebelum berjalan ke arah berlawanan. Aku tersenyum balik dan menganggukkan kepala kepadanya, kemudian melanjutkan langkahku. Ku pikir, itu merupakan suatu hal yang ganjil dilakukan di dalam hutan. 

Berulang kali ku menengok ke belakang, untuk melihat apakah ia kembali atau tidak. Aku menjadi paranoid jikalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, layaknya di film-film horor. Saat itu, banyak sekali pikiran-pikiran aneh yang merasuki kepalaku. Untungnya, bayangan-bayangan seram yang kutakutkan tak terjadi dan kami berhasil keluar dari hutan dengan selamat. 

Kembali ke Tokyo

Walking back to the base of the forest

Walking back to the base of the forest

Di perjalanan menuju Shinjuku, ketika adrenalin sudah menurun, tetiba hatiku terasa berat.

Kami melihat-lihat kembali foto-foto yang kami ambil dan berdiskusi apa kiranya yang membuat orang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka di Hutan Aokigahara. Kami menyinggung gadis misterius tadi dan berharap ia hanya merapikan rambutnya. Tapi jika tidak, aku berharap seuntai senyum yang kuberikan padanya dapat diterima sebagai sebuah cahaya atau harapan, bahwa ia masih dapat berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan orang asing di dalam hutan yang gelap dan menyeramkan itu.

Bagi kamu yang mengalami masalah hidup berat dan butuh orang untuk diajak berbicara, kamu bisa menghubungi nomor hotline 109 atau menjangkau komunitas yang peduli kesehatan jiwa seperti Into the Light atau Get Happy.

Untuk daftar lengkap komunitas-komunitas yang peduli kesehatan jiwa dapat dilihat di tautan ini. —Rappler.com