Meredakan beragam penyakit akut melalui terapi gusi

Grace Susanto membuka praktek terapi gusi yang digabungkan dengan diet golongan darah. Banyak penyakit timbul akibat pola makan yang buruk

Fariz Fardianto

7:8:35am January 9, 2018

7:8:35am January 9, 2018

Grace Susanto (kiri) mempraktekkan terapi gusi kepada para pasiennya untuk menyembuhkan beragam penyakit. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Grace Susanto (kiri) mempraktekkan terapi gusi kepada para pasiennya untuk menyembuhkan beragam penyakit. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Sebuah rumah bercat putih di pojok tikungan Jalan Erlangga Raya, Pleburan, Semarang, Jawa Tengah, tampak lengang, pada Kamis itu di penghujung tahun 2017.

Grace Susanto, sang tuan rumah, kemudian mempersilakan Rappler masuk. Di dalamnya terdapat setumpuk peralatan praktek dokter miliknya.

Di rumah itulah, Grace sejak belasan tahun silam menggeluti praktek terapi gusi. "Biasanya yang datang kemari mengeluh sakit kepala, gangguan pencernaan, sampai penyakit-penyakit yang sudah menahun," kata Grace.

Ia mengatakan menemukan metode pengobatan terapi gusi pada medio 1998 silam.

Di tengah krisis ekonomi yang berdampak pada keuangan keluarganya, Grace mula-mula dibantu suaminya untuk membuka praktek terapi gusi dengan menggabungkan diet golongan darah.

Dengan menggabungkan dua metode pengobatan tersebut, ternyata mampu meredakan beragam keluhan penyakit. Apa yang ia lakukan selama ini kerap disebut sebagai metode pengobatan yang nyeleneh.

"Terapi gusi ini bisa dilakukan dengan sederhana. Tidak perlu obat-obatan, tidak perlu zat kimia. Hanya perlu dirangsang gusinya. Suami saya yang ahli anatomi mengajari saya banyak manfaat yang didapat seseorang dengan terapi gusi. Itu bisa mengatasi gangguan kesehatan," ujarnya.

Dengan dibantu suaminya, Grace semula mempelajari cara mendeteksi anatomi tubuh yang mengalami masalah kesehatan.

Proses pengobatannya kemudian dengan membuang jaringan mati di dalam pembuluh darah perifer sehingga membantu kelancaran sirkulasi darah dan secara tidak langsung mendukung fungsi sistem limfatik untuk kekebalan tubuh.

"Proses pembersihan karang gigi dilakukan berulang kali sampai darah kotor keluar dari sela-sela gusi. Di situlah, kita bisa mengurangi penyakit dalam tubuh pasien," paparnya.

Pascaterapi, diakuinya banyak pasien yang merasa kesehatannya mulai membaik. Ia berpendapat penyakit yang mengendap dalam tubuh manusia dipicu pola makan yang buruk. Kondisinya diperparah pula dari gaya hidup yang berantakan.

Ia pun menekankan kepada pasiennya supaya rutin menjaga pola makan yang teratur sesuai identitas golongan darah.

"Makannya harus bersih dan harus disesuaikan dengan golongan darah masing-masing. Ini namanya diet golongan darah," kata Grace.

Misalnya, pasien golongan darah A, menurut Grace, harus menghindari makanan pedas mengandung cabai. 

"Ada yang harus dihindari, ada yang harus dikonsumsi secara teratur," ucapnya.

Ia menyebut banyak pasiennya yang kerap kembali berobat karena ketagihan dengan manfaat terapi gusi.

Total sampai saat ini ada ratusan pasiennya yang berasal dari berbagai negara macam Tiongkok, Jerman, Belanda, Australia, Singapura sampai daerah dari Sabang sampai Merauke yang sudah mencoba teknik pengobatannya.

"Macam-macam keluhannya. Mulai dari jerawat sampai penyakit berat seperti kanker pernah berobat kemari. Saya sangat bersyukur mendapat anugerah menjadi seorang dokter gigi yang berguna bagi masyarakat luas," katanya.

Bahkan, namanya yang semakin dikenal menarik minat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk menjajal terapi gusi di kliniknya.

"Ini jadi keahlian medis saya yang paling berharga walaupun banyak lembaga kedokteran yang belum banyak mengakui keahlian ilmu medis yang saya kerjakan selama ini," kata Grace. —Rappler.com