Berlebaran di tengah berbagai kekhawatiran

Ada sejumlah kekhawatiran yang membayangi kebahagiaan Idul Fitri mereka

Ursula Florene

1:20:0am June 26, 2017

1:21:18am June 26, 2017

LEBARAN DI TENGAH PUING. Musala tempat warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara, merayakan Idul Fitri pada Ahad, 25 Juni. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

LEBARAN DI TENGAH PUING. Musala tempat warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara, merayakan Idul Fitri pada Ahad, 25 Juni. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

JAKARTA, Indonesia – Lebaran seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi seluruh umat muslim. Di hari raya ini, keluarga yang terpisah karena pekerjaan ataupun di perantauan, berkumpul kembali di kampung halaman.

Walau begitu, tidak semua merasa demikian. Seperti warga Bukit Duri yang menghabiskan lebaran dengan perasaan tak tenang. Mereka harus angkat kaki dari daerah tersebut karena akan ditertibkan untuk normalisasi Kali Ciliwung.

Beberapa warga sudah pindah ke Rumah Susun Rawa Bebek sejak bulan puasa lalu, namun ada juga yang masih bertahan. “Kami terima (penertiban) setelah Ied (Idul Fitri),” kata Iroh, salah seorang warga RT 3 Bukit Duri pada Ahad, 25 Juni.

Ia dan para tetangga yang masih menghuni rumah di bantaran sungai itu akan saling bersilaturahmi untuk Idul Fitri terakhir di Bukit Duri. Memang kebanyakan penghuni sudah menghuni area tersebut selama belasan hingga puluhan tahun, dan memiliki kenangan kuat.

Suasana di rusunawa belum tentu seakrab saat ini. Kemungkinan mereka ditempatkan di gedung yang berbeda, atau unit berbeda lantai tentu menyulitkan komunikasi. Di Bukit Duri, rumah mereka saling berdekatan, dan memudahkan komunikasi antar tetangga.

Ramdan, salah satu tetangga Iroh, sudah memindahkan barang-barangnya ke Rusunawa Rawa Bebek, tetapi masih menetap hingga lebaran. Ia mengawasi cucu-cucunya yang berlarian dengan anak-anak tetangganya.

“Urusan sudah beres, sekarang tinggal silaturahmi aja, kan banyak kenangan sama tetangga di sini,” kata dia.

Suasana serupa juga dialami warga Kampung Akuarium, Jakarta Utara. Setelah direlokasi oleh pemerintahan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, mereka melawan dan kembali lagi ke lokasi semula. Sejak lebaran tahun lalu, mereka merayakan Idul Fitri di atas puing-puing bangunan.

Anak-anak saling mengunjungi dan berlarian di samping kali yang memisahkan mereka dari Kampung Luar Batang. Tidak ada atribut khusus yang terpasang, hanya saja para warga korban gusuran khusus mengenakan busana muslim.

Juhaeriah, salah satu warga yang berada di sana, mengatakan kampung halamannya adalah Kampung Akuarium. Ia lahir dan besar di sana, maka tidak perlu ke mana-mana saat lebaran.

“Tapi ya khawatir juga, soalnya kan dari sebelum puasa sudah mau digusur lagi,” kata dia. Meski berita tersebut sudah digaungkan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sejak sebelum puasa dimulai, realisasinya tidak kunjung berjalan.

Maka, Juhaeriah dan para warga lainnya tak bisa dengan bahagia dan tenang sepenuhnya merayakan lebaran. Bayang-bayang penggusuran yang harus mereka hadapi setelah lebaran berakhir menjadi duri tersendiri dalam hati.

Bila masalah di ibu kota adalah perihal tempat tinggal, jemaat Ahmadiyah di Depok menghabiskan lebaran dalam ketakutan. Sehari sebelum Idul Fitri, masjid mereka dilempar telur, dan dipasangi spanduk penolakan.

Konflik keberadaan jemaat Ahmadiyah di Depok memang sudah berlangsung cukup lama, dan berdampak pada penyegelan masjid yang mengganggu ibadah mereka. Mubaligh JAI Depok Farid Mahfud mengatakan mereka tetap beribadah di Masjid Al-Hidayah, Sawangan, Depok.

“Tetap (salat) di area masjid, di halamannya karena masjid masih disegel,” kata dia saat dihubungi. Mereka meminta bantuan aparat kepolisian untuk melakukan penjagaan selama jemaat melangsungkan salat ied.

Aksi intimidasi berupa pelemparan telur dan cat ini sangat disayangkan karena menodai kesucian Idul Fitri. Farid berharap ke depannya pemerintah kota Depok dapat mencabut segel, serta menghentikan diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah di Depok. - Rappler.com