Made in Indonesia: Pesawat N219 sukses terbang

“Ini murni semuanya dikerjakan oleh engineer Indonesia.”

Yuli Saputra

Published: 7:55 AM August 17, 2017

Updated: 7:55 AM August 17, 2017

Pesawat N219 saat flight test pertama, Rabu (16/8). Foto oleh Humas PT DI.

BANDUNG, Indonesia — Pesawat N219 itu mendarat mulus di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 16 Agustus 2017. 

Dari cockpit pesawat tersebut kemudian muncul Captain Esther Gayatri Saleh, Chief Test Pilot PTDI sebagai Pilot In Command (PIC). Kegembiraan menyambut kedatangannya.

“Ini murni semuanya dikerjakan oleh engineer Indonesia,” kata Kepala Lembaga  Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin merujuk pada pesawat N219.

Pesawat N219 memang hasil kerja bareng PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan LAPAN. Pada Rabu pagi itu, pesawat N219 baru saja menjalani flight test pertama kalinya dan sukses.

Pesawat N219 take off pada pukul 09:00 WIB dan terbang selama sekitar 20 menit. Pesawat  terbang melintasi kawasan Batujajar dan Waduk Saguling sebelum kembali mendarat pukul 09:20 WIB.

Selain Captain Esther Gayatri Saleh, test flight tersebut juga mengikutsertakan Captain Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (FO) dan Yustinus sebagai Flight Test Engineer (FTE).

Sebelum flight test dilakukan, pesawat berkapasitas penumpang 19 orang ini telah mengantongi Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan.  

Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). FOTO oleh Fahrul Jayadiputra/ANTARA

Flight test berjalan sukses dan Thomas Djamaludin berharap pesawat tersebut akan sudah diproduksi pada 2018. 

“Bisa dikatakan N219 sebagai kebangkitan teknologi kedua setelah N250.  Karena dengan N219 kita menunjukkan mampu merancang pesawat sampai betul-betul terbang,”kata Thomas.

Thomas menargetkan, setelah diproduksi masal, pesawat N219 ini nantinya bisa digunakan untuk daerah-daerah terpencil yang memiliki landasan pendek.  Selain itu Pesawat N219 juga dirancang untuk bisa bermanuver dengan kecepatan rendah sehingga bisa dipergunakan dengan baik di daerah perbukitan.

“Kami mempunyai pemikiran N219 dikembangkan versi amphibi sehingga bisa mendarat di pulau-pulau kecil, tanpa memerlukan landasan. Jadi nantinya pesawat bisa mendarat di pantai,” kata Thomas.

Sementara Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, berharap N219 bisa dijual secara ekonomis sehingga bisa bersaing di pasaran. “Pesawat ini (dibuat) bukan hanya untuk terbang,” tegas Budi. 

Namun untuk bisa sampai tahap produksi, jalan N219 masih cukup panjang. Sebab pesawat yang dirancang sejak 2006 ini masih harus mengantongi Type certificate atau sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. 

Sertifikat ini dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan. Serangkaian tes pun masih harus dilalui. 

Pesawat N219, misalnya, masih harus melalui tahap fatigue test, flight test developmentdan flight test certification yang membutuhkan 3000 cycle fatigue test dan 300 Flight Hours untuk mendapatkan Type Certificate.

Butuh dana Rp 1 triliun

Mengenai besaran anggaran, Budi mengungkapkan, sampai sejauh ini biaya produksi N219 telah mencapai angka Rp 827 miliar yang bersumber dari anggaran PT DI dan LAPAN. 

“Sampai selesai seluruh flight test, dibutuhkan dana total 80 juta dollar atau Rp 1 triliun,” ujar Budi. 

Nantinya, setelah pesawat N219 mendapat sertifikat dan bisa diproduksi, akan dilanjutkan dengan memproduksi pesawat lain, yakni pesawat N245.  

Budi mengatakan ada makna tersirat dari angka N219 dan N245. “Bagi saya angka 19 dan 45 dalam N219 dan N245 mempunyai filosofi tersendiri,” katanya.

Pesawat N219, kata Budi, adalah bagian dari semangat 1945. “N219 dan yang nantinya akan dilanjutkan dengan program N245 merupakan perwujudan semangat proklamasi 1945,” kata Budi.

Seirama dengan Budi, Thomas pun optimistis proyek Pesawat N219 akan berlanjut ke Pesawat N245. “N245 harus jadi juga. N219 dan N245 mudah-mudahan menjadi penyemangat kita,” kata Thomas. —Rappler.com