Letusan Gunung Agung tahun 1963 dalam ingatan warga Bali

Dalam peristiwa tahun 1963 lalu menewaskan 608 orang

Bram Setiawan

12:59:38am November 30, 2017

12:59:38am November 30, 2017

MELETUS. Letusan Gunung Agung yang terlihat dari area Karangasem pada Maret 1963. Foto: dokumentasi PVBMG yang dipajang di posko pemantauan Desa Rendang

MELETUS. Letusan Gunung Agung yang terlihat dari area Karangasem pada Maret 1963. Foto: dokumentasi PVBMG yang dipajang di posko pemantauan Desa Rendang

DENPASAR, Indonesia - I Ketut Duduk tampak bersantai di posko pengungsian Gunung Agung yang berlokasi di Jalan Danau Tempe, Desa Sanur Kauh, Denpasar pada Rabu, 29 November. Warga Dusun Cegi, Desa Ban, Karangasem itu mengetahui dari media massa bahwa Gunung Agung kembali erupsi.

Sudah dua kali Duduk merasakan mengungsi. Ia pernah mengalami langsung situasi gunung dengan tinggi sekitar 3.000 meter itu saat meletus pada 1963 lalu.

"Letusan besar (ketika itu), turun hujan abu, ada pasir," katanya kepada Rappler.

Duduk menceritakan saat melihat hujan abu vulkanik ia bergegas meninggalkan rumahnya untuk mengungsi.

Keriput kulit menandakan usianya yang semakin tua lebih dari setengah abad. Namun saat ingatannya kembali pada letusan Gunung Agung tahun 1963, ia terlihat bersemangat untuk bercerita. 57 tahun yang lalu teknologi belum canggih, informasi pun belum menjangkau penduduk seperti sekarang. Namun Duduk sudah memperkirakan ada peningkatan aktivitas Gunung Agung dari jumlah gempa yang ia rasakan saat itu.

"Sehari 8 kali (gempa) terasa," tutur pria yang kini berusia 71 tahun itu.

Ketika mengungsi, ia berjalan kaki menuju kawasan Tianyar, Karangasem. Di sana, Duduk merasakan bahwa lokasi tersebut belum aman, sehingga ia melanjutkan perjalanannya ke Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.

Hanya beberapa bulan di Seririt, Duduk pun berpindah tempat pengungsian di Denpasar. Pada 1963, Gunung Agung meletus selama satu tahun sejak 18 Februari kemudian berakhir pada 27 Januari 1964. Duduk mengungsi selama dua tahun.

"Ketika kembali ke kampung, semua rusak. Saya ingat cuma ada satu rumah yang masih (utuh)," katanya.

Kebun yang ia tanami sawi, pepaya, dan nangka pun sudah tak tersisa. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia menanami singkong untuk kebunnya.

Ni Wayan Ngair pun memiliki pengalaman tak jauh berbeda dengan Duduk. Ngair saat itu juga mengungsi lebih dari satu tahun.

Saat kembali ke kampung halamannya di Dusun Cegi, Desa Ban, Karangasem, rumahnya sudah rusak dan tak bisa dihuni lagi.

"Saya membuat balai untuk tinggal sementara, sambil membangun rumah lagi selama hampir dua tahun," kata perempuan yang kini berusia 70 tahun itu.

Kebun yang sebelumnya ditumbuhi pohon mangga dan nangka, saat itu sudah tidak tersisa lagi.

"Saya tanami singkong dan jagung," kata dia.

Namun, ia mengakui pasca letusan Gunung Agung, tanahnya menjadi subur.

“Yang saya tanam ketika itu tumbuh semuanya dengan bagus,” ujarnya.

Sementara, data yang diungkap Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVBMG) menyebut letusan pertama terjadi pada 19 Februari 1963 sekitar pukul 01:00 WITA. Saat itu, asap terlihat bergumpal-gumpal dan bau belerang mulai tercium oleh penduduk sekitar di lereng Gunung Agung.

Letusan kemudian terjadi pada hari-hari berikutnya. Hampir setiap hari turun hujan abu. Dalam letusan Gunung Agung tahun 1963 lalu sebanyak 608 orang tewas. Mereka meninggal akibat terpapar awan panas, lahar dan piroklastika.

Sementara, data dari Bulletin Volcanology mencatat lebih banyak warga yang tewas akibat letusan Gunung Agung 57 tahun lalu. Mereka mencatat ada sekitar 1.500 orang yang meninggal.

Sementara, berdasarkan pengamatan Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Agung sudah mengalami tremor overscale. Pada Rabu kemarin,PVMBG merekam adanya gempa tremor overscale pukul 17.25 WITA.

Sedangkan kemarin, Selasa, 28 November, PVMBG merekam tremor overscale pukul 13.30 WITA - 14.00 WITA.

"Tremor Overscale baru pertama terjadi sejak kami mengamati Gunung Agung dari September sampai November. Kami cukup kaget dengan tremor ini," kata Kepala Bidang Mitigasi Bencana PVMBG, I Gede Suantika.

Mengetahui dampak Gunung Agung yang besar pada 57 tahun yang lalu, Presiden Joko "Jokowi" Widodo meminta agar berbagai pemangku kepentingan saling berkoordinasi. Dia meminta agar tidak ada korban dalam peristiwa letusan ini. 

"Saya memerintahkan Kepala BNPB, TNI/Polri, Basarnas dan kementerian terkait untuk bekerja memberikan dukungan kepada pemerintah provinsi daerah yang ada di Bali dalam rangka penanganan pengungsi. Semua harus diback up dan saya minta jangan sampai ada korban karena letusan gunung api ini," ujar Jokowi di Jakarta pada Rabu kemarin. 

Ia pun meminta kepada warga Bali yang tinggal di dekat kawasan rawan bencana agar segera mengungsi. Keselamatan, kata Jokowi, harus menjadi prioritas diri mereka sendiri. - Rappler.com

BACA JUGA:

Apa yang sebaiknya kamu lakukan ketika gunung meletus?

Gunung Agung: Cerita warga yang sediakan lahan penitipan untuk sapi