Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel

Kebijakan Trump dikritik banyak pihak karena dapat membahayakan upaya perdamaian antara Israel-Palestina

Rappler.com

10:50:0pm December 6, 2017

10:52:8pm December 6, 2017

AKUI YERUSALEM. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Foto oleh Don Emmert/AFP

AKUI YERUSALEM. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Foto oleh Don Emmert/AFP

JAKARTA, Indonesia - Pengumuman yang dinanti-nanti akhirnya disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu siang, 6 Desember waktu setempat di Gedung Putih. Dalam 22 tahun sejarah kepemimpinan Negeri Paman Sam, Trump akhirnya mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Saya telah memutuskan bahwa ini merupakan waktu untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel,” ujar Trump dari Gedung Putih.

Dia menekankan bahwa itu merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Apalagi keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai bagian dari Israel sudah tertuang di dalam UU yang diloloskan oleh Kongres AS pada tahun 1955 lalu.

Tapi, kebijakan itu tidak pernah dilakukan oleh mantan Presiden AS di era sebelumnya. Padahal, para pendahlu Trump itu, dimulai dari Bill Clinton hingga George Bush, juga membuat janji kampanye untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Namun, mereka selalu menangguhkan hukum itu demi menghindari pergolakan politik di Timur Tengah.

“Banyak presiden yang telah mengatakan mereka ingin melakukan sesuatu dan tidak mereka lakukan. Entah karena masalah keberanian atau mereka berubah pikiran, saya tidak tahu. Menurut saya, ini sudah terlalu lama ditunda,” kata Trump.

Menurut Trump, Israel merupakan negara berdaulat sama seperti negara lain di dunia, sehingga mereka dapat menentukan sendiri ibu kotanya. Permasalahannya, tidak ada satu pun negara di dunia ini yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dunia internasional justru menganggap Yerusalem dalam status quo yang langsung disupervisi oleh PBB.

Yang menarik, Trump masih optimistis bahwa upaya perdamaian antara Israel dengan Palestina masih dapat dilakukan pasca pengumuman itu. Padahal, salah satu isu penting dan sensitif yang selalu menjadi perbincangan dalam setiap negosiasi perdamaian yakni mengenai status Yerusalem.

Trump mengatakan kendati AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, namun ia menyebut tetap mendukung upaya perdamaian “Solusi Dua Negara”.

“AS akan terus mendukung solusi dua negara, jika itu disepakati oleh kedua pihak,” kata dia.

Negeri Paman Sam, kata Trump, juga tidak bersikap terhadap status kota suci Yerusalem, termasuk resolusi perbatasan yang tengah diperebutkan. Trump menyerahkan hasil akhir itu kepada pihak Israel dan Palestina.

Dikritik sekutu dan lawan

Langkah itu tentu saja dikritik oleh banyak pihak, baik sekutu di kawasan Timur Tengah, PBB dan Indonesia.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan upaya sepihak yang dilakukan oleh Trump dapat membahayakan prospek perdamaian yang telah diusahakan selama puluhan tahun.

Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan sikap Trump sungguh tercela.

“Upaya tercela dan tidak dapat diterima ini telah dengan sengaja membahayakan semua upaya perdamaian,” kata Abbas tak lama usai Trump membuat pengumuman.

Sementara, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Sae Erekat yang diketahui telah bekerja sangat lama sebagai negosiator utama dalam upaya perdamaian mengatakan secara jelas bahwa sikap Trump telah menghancurkan upaya solusi dua negara. Ia pun mewanti-wanti bahwa pasca pengumuman itu, maka akan memberikan amunisi bagi kelompok ekstrimis di kawasan untuk melakukan tindak kekerasan.

Sementara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyeruakan agar dilakukan KTT Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul pada 13 Desember. Tujuannya untuk menyampaikan sikap bersama di antara negara-negara yang memiliki penduduk Muslim terkait isu Yerusalem.

“Langkah seperti ini malah akan dimainkan oleh kelompok-kelompok teror,” kata Erdogan usai memberikan keterangan pers di Ankara.

Di sisi lain, Pemerintah Yordania dan Palestina juga menyerukan pertemuan darurat Liga Arab di Kairo.

Sementara, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah memanggil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, John Donnovan ke Kemlu pada Senin kemarin. Retno menyampaikan keprihatinan Indonesia terkait upaya pengumuman Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Rencana tersebut jelas akan mengancam proses perdamaian Israel-Palestina,” ujar Retno yang disampaikan melalui akun Twitter Kemlu.

Menlu perempuan pertama di Indonesia itu juga mengatakan telah mengirimkan pesan yang sangat jelas melalui perwakilannya di OKI. Indonesia menolak keras sikap Negeri Paman Sam yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Indonesia sangat mengkhawatirkan dampak buruk perpindahan Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem,” ujar Wakil Tetap RI untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Agus Maftuh Abegebriel dalam pertemuan luar biasa OKI di Jeddah, Arab Saudi seperti dikutip media- dengan laporan AFP/Rappler.com