Menikmati Piala Dunia: Tak bisa nobar, debar pun jadi

Para penyandang tunanetra mengandalkan laporan audio untuk mengikuti pertandingan

Anang Zakaria

4:59:57am June 28, 2018

4:59:57am June 28, 2018

DENGAR BARENG. Sejumlah penyandang difabel netra mengikuti jalannya pertandingan sepak bola antara tim Jerman dan Korea Selatan melalui siaran radio di Balai Sosial Mardi Wuto Yogyakarta, Rabu 27 Juni 2018 malam. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

YOGYAKARTA, Indonesia – Lewat pengeras suara, nada penyiar radio terdengar meninggi ketika Tim Panser menembus pertahanan kesebelasan Korea Selatan. Para pemain asuhan Joachim Low itu digambarkan menusuk sampai ke depan gawang.

Puluhan pendengar di aula Mardi Wuto Yogyakarta, Rabu 27 Juni 2018 malam, terdiam. Mimik mereka terlihat tegang menyimak jalannya pertandingan. Dan kemudian, “Tim Korea tak kalah bagus, penjaga gawang tangkas memetik bola di udara,” suara lelaki penyiar radio melanjutkan laporannya.

Jerman gagal menjebol gawang Korea. Hingga paruh waktu babak kedua skor bertahan imbang, 0-0. Pendengar siaran berteriak menahan kecewa.

Seorang pendengar, Tio Tegar (21 tahun) mengatakan meski tak mengidolakan tim Jerman, ia yakin Tim Panser mampu menggungguli Korea. Banyak pemain bola handal di sana. “Saya pengamat saja meski tak bisa mengamati,” kata mahasiswa jurusan hukum semester V di Universitas Gadjah Mada itu.

Tio seorang tunanetra. Ia mulai kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini, matanya hanya mampu menangkap cahaya. Toh kehilangan kemampuan melihat obyek tak membuat lelaki asal Magelang itu kehilangan kecintaan pada sepak bola. “Bapak dan kakak saya suka nonton bola, saya jadi suka juga,” kata bungsu dari tiga bersaudara ini.

Berbeda dengan orang tua dan saudaranya, ia mengandalkan laporan audio untuk mengikuti pertandingan. Radio jadi pilihan utama. Kalau tak ada, suara komentator pertandingan pada siaran televisi menjadi penggantinya.

Dengar bareng

Sepanjang berlangsung Piala Dunia 2018 kali ini, ia nyaris tak pernah melewatkan tiap pertandingan. “Di burjo (warung) juga bisa,” katanya.

Tapi malam itu, ia memilih dengar bareng (Debar) pertandingan di Mardi Wuto. Dengan menumpang ojek online, ia berangkat dari kosnya di Klebengan.

Mardi Wuto adalah balai sosial di bawah naungan Yayasan Rumah Sakit Mata Dr.YAP Prawirohusodo di Jalan Cik Di Tiro. Lembaga ini bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia menggelar debar pertandingan sepak bola antara Jerman dan Korea.

Muhammad Akbar Satriawan (27 tahun), penyandang difabel netra lain, mengatakan rata-rata peserta debar sudah saling kenal. Kalau pun tak terlalu akrab, mereka sebelumnya pernah dipertemukan dalam kegiatan yang digelar Mardi Wuto, semisal latihan bermusik hingga kursus bahasa Inggris.

Berbeda dengan Tio yang hanya mampu menangkap cahaya pada penglihatannya, mata Akbar masih mampu menangkap obyek. Hanya saja, pandangan itu terbatas pada jarak yang sangat terbatas. Berkurangnya jarak pandang itu ia alami sejak bayi. “Saya low vision,” kata lulusan jurusan komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu.

Sehari-hari kini, Akbar berjualan makanan ringan. Untuk mencapai satu tempat ke tempat lain, lelaki asal Kotagede ini mengandalkan transportasi umum dan ojek. “Tadi ke sini naik ojek online,” katanya.

Seperti kebanyakan peserta debar malam itu, Akbar memerkirakan tim Jerman akan unggul dibanding Korea. Sayangnya tendangan pemain Korea, Kim Young-Gwon dan Son Heung-Min, pada menit terakhir pertandingan berhasil membobol gawang Jerman. Skor berubah, 2-0. Tim Negeri Ginseng unggul.

MAKANAN RINGAN. Muhammad Akbar Satriawan (berkacamata), penyandang difabel netra sedang melayani pembeli makanan ringan. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

MAKANAN RINGAN. Muhammad Akbar Satriawan (berkacamata), penyandang difabel netra sedang melayani pembeli makanan ringan. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

Harus ada gagasan inovatif

Relawan Mardi Wuto, Veronica Christamia Juniarmi (28 tahun), mengatakan tak banyak hiburan yang bisa didapat seorang penyandang difabel netra. Karena itu harus ada gagasan kreatif dan inovatif untuk merancang kegiatan bagi mereka. “Debar ini merupakan yang pertama di sini,” katanya.

Mahasiswa S2 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini mulai akrab dengan para penyandang difabel netra di Mardi Wuto sejak beberapa tahun lalu. Bermula ketika ia dan beberapa rekannya menjadi pengajar bahasa Inggris bagi mereka, ia kini mendirikan Komunitas Brailiant Yogyakarta.

Pengurus komunitas mencapai 20 orang. Tiga di antaranya penyandang difabel netra. Adapun jumlah dampingan komunitas disebut mencapai 200 orang.

Komunitas ini menggelar sejumlah kegiatan bagi penyandang difabel netra. Di antaranya Layar Bisik. Sebulan sekali, relawan dan penyandang difabel netra datang ke bioskop. Selama pemutaran film berlangsung, relawan membisikkan jalan cerita ke difabel netra.

Kegiatan lainnya, kata dia, Audio Book Massal. Ini kegiatan peningkatan literasi bagi difabel netra. Relawan membacakan buku atau novel, sementara penyandang difabel netra mendengarkan bersama-sama.

Saat ini perkembangan teknologi smartphone memang memberikan kesempatan mengakses buku digital. Beberapa aplikasinya malah sudah dilengkapi dengan program suara. “Tapi tak semua buku ada (aplikasi suara), jadi kami bikin Audio Book Massal,” katanya.

Kepala Bidang Programa Siaran RRI Yogyakarta Yuliana Martadoky mengatakan RRI merupakan satu-satunya stasiun radio di Indonesia yang mendapat lisensi untuk menyiarkan pertandingan Piala Dunia sepak bola. Adapun debar berlangsung dengan memperdengarkan siaran langsung dari stasiun siaran di Jakarta secara bersama-sama.

Gagasan menggelar debar pertandingan Jerman versus Korea malam itu, ia mengatakan, dilatarbelakangi peran RRI sebagai lembaga penyiaran publik. Sehingga, stasiun radio plat merah ini harus bisa melayani semua golongan, termasuk penyandang difabel netra.

—Rappler.com