Mereka yang segera menjadi penguasa provinsi

Kecil kemungkinan para pemenang Pilkada Serentak 2018 versi hitung cepat lembaga survei tak jadi dilantik

Christian Simbolon

9:39:38am June 28, 2018

8:18:34am June 29, 2018

KAMPANYE. Calon Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam salah satu ajang kampanye akbar di Bandung. Foto instagram @ridwankamil

KAMPANYE. Calon Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam salah satu ajang kampanye akbar di Bandung. Foto instagram @ridwankamil

JAKARTA, Indonesia—Pemungutan suara Pilkada Serentak 2018 tuntas dilaksanakan, Rabu, 27 Juni lalu. Tak ada kendala berarti yang dihadapi penyelenggara pemilu. Kericuhan tak terdengar. Bisa dikata, pelaksanaan pilkada kali ini jauh lebih lancar daripada pilkada serentak sebelumnya. 

Berbarengan dengan pemungutan suara, sejumlah lembaga survei menggelar hitung cepat (quick count) untuk mengetahui siapa saja para penguasa baru yang lahir dari pesta demokrasi itu. Meskipun hasil resmi KPUD belum diumumkan, hitung cepat lembaga survei tetap menjadi rujukan. 

Mengingat hasil hitung cepat lazimnya tak berbeda jauh dari hasil rekapitulasi suara Komisi Pemulihan Umum, maka euforia kemenangan pun mulai menyeruak. Terlebih, khususnya di pentas Pilgub, perbedaan suara antara sang pemenang dan pesaing lainnya cukup signifikan. 

Infografis Rappler Indonesia

Infografis Rappler Indonesia

Jawa Barat paling ketat

Di kawasan barat Indonesia, Pilgub Jawa Barat menjadi sorotan. Di provinsi dengan jumlah pemilih terbesar itu, pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (RINDU) didapuk sejumlah lembaga survei sebagai pemenang. Pasangan RINDU menyingkirkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan duet Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan. 

Dalam pidato kemenangannya, Kang Emil, sapaan akrab Ganjar, mengaku bersyukur bisa memenangi kontestasi. Ia mengatakan, kemenangan itu menjadi suratan takdir Yang Mahakuasa. “Tugas kita hanya berusaha keras menjemput takdir yang telah ditentukan itu,” kata Emil di hadapan para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Rabu sore, 27 Juni 2018.

Kejutan justru muncul dari pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik). Pasangan yang diusung PKS dan Gerindra itu mampu meraih suara hingga lebih dari 30%. Padahal, sejumlah lembaga survei sebelumnya hanya menempatkan elektabilitas keduanya kurang dari 10%. 

Dari hitung cepat Charta Politika misalnya, pasangan Asyik meraih 30,49%. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika, hal itu tidak terlepas dari kekuatan mesin politik PKS dan kemampuan pasangan Asyik memanajemen isu-isu primordial. 

"Manajemen isu dengan memainkan isu primordial, etnis, dan agama juga cukup sukses. Bahkan di Amerika, isu SARA kerap menjadi amunisi elite politik,” ujar Yunarto dalam salah satu wawancara dengan sebuah televisi swasta, Rabu, 27 Juni 2018. 

Sedangkan di Jawa Tengah, seperti diprediksi sebelumnya, pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin melenggang ke kursi Jateng-1. Ganjar-Yasin yang diusung PDI-Perjuangan dan PKB mengalahkan pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah. Raihan suara Ganjar-Yasin cukup fantastis, yakni hampir mencapai 60% suara. 

Pilgub Sumut juga tak menghadirkan kejutan berarti. Sebagaimana diprediksi sejumlah lembaga survei sebelumnya, pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) menang mudah dari pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS). Menurut hitung cepat yang digelar SMRC, pasangan Eramas mengantongi 58,88% suara. 

Di kawasan tengah dan timur Indonesia, Pilgub Jawa Timur menyita perhatian publik. Sempat tertinggal di papan survei pada Januari lalu, pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak, melaju kencang hingga akhirnya menyalip pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri. 

Infografis Rappler Indonesia

Infografis Rappler Indonesia

Khofifah-Emil tampil gemilang

Dari hasil quick count sejumlah lembaga survei, pasangan Khofifah-Emil mengantongi sekitar 52-54% suara pemilih Jatim. “Walaupun kami menang quick count, tidak berarti kami terbaik. Salam hormat kepada saudara kami, Gus Ipul dan Mbak Puti, dan seluruh pengusung pasangan calon nomor urut 2," ujar Khofifah dalam pidato kemenangannya di Surabaya, Rabu malam, 27 Juni 2018. 

Menurut pengamat politik Airlangga Pribadi, ada sejumlah faktor yang menyebabkan Khofifah-Emil bisa unggul dari pasangan Gus-Ipul Puti pada pemungutan suara. Yang pertama, ialah strategi blusukan Khofifah-Emil yang langsung menyentuh lapisan terbawah pemilih. 

Kedua, faktor Emil. Menurut Airlangga, Emil mampu tampil cemerlang di sejumlah debat resmi KPU dan menunjukkan dirinya sebagai figur pemimpin muda, berkapasitas, berani dan cerdas. Emil dinilai bisa menjadi magnet bagi para pemilih di Jawa Timur, khususnya para pemilih muda dan rasional. 

Ketiga, manuver politik Gubernur Jatim Soerkarwo (Pakde Karwo). Menjelang pencoblosan, Pakde Karwo melansir surat terbuka kepada masyarakat Kawa Timur untuk memilih pasangan Khofifah-Emil dengan pertimbangan kapasitas calon. "Basis dukungan Pakde Karwo yang masih kuat baik di kalangan basis Mataraman maupun kiai ikut memberikan kontribusi suara kepada pasangan Khofifah-Emil," ujar Airlangga seperti dikutip Republika. 

Di Pilgub Maluku, hasil hitung cepat LSI Denny JA memenangkan pasangan nomor urut 2, Murad Ismail-Barnabas Ornoyang menang. Murad merupakan mantan Komandan Korps Brimob Polri. Bersama Edy di Pilgub Sumut, keduanya merupakan perwakilan TNI-Poltri yang maju dan memenangkan Pilgub. 

Hasil yang relatif sudah terprediksi sebelumnya juga terjadi di Pilgub Sulsel. Setidaknya ada lima lembaga survei yang menetapkan pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman sebagai pemenang Pilgub Sulsel. 

Menurut survei SMRC misalnya, pasangan Nurdin-Andi meraup suara hingga 43.15%. Pasangan itu mengalahkan duet Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (28.85%), Agus Arifin Numang-TanriBali Lamo (9.82%) dan Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar (18.18%). Hasil serupa juga direkam Indo Barometer. 

—Rappler.com