IFC berencana ubah 20% bangunan baru jadi gedung hijau di Indonesia pada 2021

‘Perubahan Iklim, masalah lingkungan dan pertumbuhan penduduk memaksa kita untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih baik’

Rappler.com

10:58:16am October 25, 2017

10:58:16am October 25, 2017

ILUSTRASI. Anak-anak bermain di ruang terbuka hijau Taman Senopati, Magelang, Jawa Tengah. Foto oleh Anis Efizudin/Antara

JAKARTA, Indonesia — International Finance Corporation (IFC) bersama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) menyelenggarakan acara penandatanganan oleh CEO dari 10 firma arsitektur terkemuka dalam memperkuat komitmen mereka untuk menerapkan prinsip bangunan gedung hijau dalam desain mereka, pada Rabu, 25 Oktober.

Acara penandatanganan oleh CEO dan presentasi dari Mr. Tai Lee Siang, Presiden World Green Building Council, memberikan kesempatan bagi para arsitek dan praktisi pasar terkemuka untuk berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan praktik lingkungan yang baik sebagai upaya untuk mengukur dampak iklim, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. 

Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dan juga penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat, setelah Amerika Serikat, Tiongkok, dan India. Sebagai bagian dari rencana untuk mengurangi emisi hingga 29% pada tahun 2030, pemerintah mendorong efisiensi energi yang lebih tinggi pada bangunan. 

Sektor bangunan merupakan konsumen energi akhir ketiga terbesar di negara ini setelah sektor industri dan sektor transportasi. Hal tersebut menyumbang 27% dari total konsumsi energi akhir dan diperkirakan meningkat mejadi 39% pada tahun 2030.

IFC dan partner lokalnya, GBC Indonesia, bertujuan untuk mengubah 20% dari total bangunan baru (setara dengan 80.000 unit perumahan) menjadi bangunan gedung hijau di beberapa kota pilihan pada tahun 2021. Tingkat penetrasi ini akan membantu mengurangi 1,2 juta metric ton emisi gas rumah kaca per tahun, menghindari penggunaan tenaga listrik sebesar 500 MWh dan menghemat hampir USD 200 juta per tahun pada tahun 2021.

“Perubahan Iklim, masalah lingkungan dan pertumbuhan penduduk memaksa kita untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih baik”, ujar Chairwoman GBC Indonesia, Naning Adiwoso. 

Green building atau bangunan gedung hijau bukan lagi pilihan, tapi merupakan suatu kebutuhan. Cukup baik tidak lagi cukup. Cara kita bekerja tidak lagi sama seperti dahulu. Apakah kita mendorong perubahan, atau apakah kita didorong olehnya?”

Dengan dukungan IFC, kebijakan bangunan gedung hijau telah diadopsi selama tiga tahun terakhir oleh pemerintah kota dan nasional yang inovatif. Kebijakan ini mensyaratkan sebagian besar proyek bangunan berskala besar untuk menghemat sumber daya seperti energi, air dan bahan bangunan, selama konstruksi dan beroperasi. 

Persyaratan-persyaratan ini diharapkan memiliki dampak yang signifikan terhadap ekonomi, lingkungan dan sosial dari waktu ke waktu. Tim Green Building IFC Indonesia telah membantu mendorong terciptanya area bangunan gedung hijau seluas lebih dari 18 juta meter persegi dan mengurangi lebih dari 700 ribu ton emisi karbon di Indonesia.

“Kami tahu bahwa kota-kota yang berkelanjutan adalah masa depan Asia,” ujar Azam Khan, Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia, dan Timor- Lesté. 

“Kami telah bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan menunjukkan kepada sektor swasta bahwa dengan menggunakan lebih sedikit energi, mereka bisa memperoleh lebih banyak manfaat. Investasi di Indonesia akan menjadi ramah lingkungan dan kami menciptakan pasar untuk mendorong investasi dan inovasi di sektor ini.” —Rappler.com