Mengenal Djoko Setiadi, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara

Djoko Setiadi langsung melontarkan kalimat kontroversial pada hari pertama kerja. Ia menyebut ada hoax yang ‘positif’ dan ‘membangun’

Rappler.com

5:19:41am January 4, 2018

5:25:2am January 4, 2018

Mayjen Purn Djoko Setiadi usai dilantik sebagai Kepala BSSN oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 3 Januari 2018. Foto dari setkab.go.id

Mayjen Purn Djoko Setiadi usai dilantik sebagai Kepala BSSN oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 3 Januari 2018. Foto dari setkab.go.id

JAKARTA, Indonesia — Presiden Joko “Jokowi” Widodo melantik Mayjen (Purn) TNI Djoko Setiadi sebagai Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Istana Negara, pada 3 Januari 2018.

Siapa Djoko dan bagaimana rekam jejaknya?

Mantan Kepala Lemsaneg

Sebelum diangkat menjadi Kepala BSSN, Djoko merupakan Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) sejak 2011. Ia telah menjabat sebagai Kepala Lemsaneg selama dua periode. Ia dilantik kedua kalinya pada 8 Januari 2016 silam. 

BSSN sendiri merupakan peleburan antara Lemsaneg, Badan Siber Nasional (BSN), dan Direktorat Keamanan Informasi, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

Berasal dari keluarga sederhana

Djoko lahir di Surakarta, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana dengan delapan saudara.

Ia menempuh pendidikan SMA di Jakarta, namun mengalami kesulitan biaya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada 1977, ia mendaftar ke Akademi Sandi Negara (Aksara) dan diterima, sebuah pijakan awal memasuki dunia sandi negara. Ia lulus dari Aksara pada 1980.

(BACA: Mencari tahu apa itu Badan Siber dan Sandi Negara)

Mengagumi Roebiono Kertopati

Semenjak menimba ilmu di Aksara, Djoko mengagumi sosok dr Roebiono Kertopati, Kepala Lemsaneg masa 1946-1984. Dari Roebiono inilah, Djoko terinspirasi untuk mengikuti jejaknya dan meniti karier di TNI.

Ia lulus dari pendidikan TNI pada 1981 dengan pangkat letnan dua. Setelah lulus ia ditugaskan ke Kalimantan Barat selama delapan tahun. Di sana ia bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi istrinya, Kyatti Imani. 

Perjalanan karier hingga menjadi Kepala Lemsaneg

Usai penugasan di Kalimantan Barat, Djoko ditempatkan di Pusat Komunikasi Kementerian Luar Negeri pada 1990. Ia kemudian ditugaskan ke Turki saat Perang Teluk terjadi. Di sana, ia dan keluarga menetap selama 4,5 tahun.

Kembali ke Indonesia, Djoko ditempatkan di Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad). Ia lalu sempat menjadi anggota Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) selama 4 tahun.

Awal kariernya di Lemsaneg bermula di Direktorat Pengamanan Sinyal. Kemudian dilanjutkan menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan di Ciseeng.

Ia pun diangkat menjadi Deputi Pengaman Persandian sebelum pada 2011 menjadi Kepala Lemsaneg. 

Membuat kontroversi di hari pertama kerja sebagai Kepala BSSN

Hanya beberapa saat setelah dilantik sebagai Kepala BSSN, Djoko membuat heboh jagad maya. Ketika berbicara dengan wartawan, Djoko angkat bicara soal hoax atau berita bohong yang banyak beredar di media sosial.

Menurutnya, ada hoax yang positif dan membangun.

"Tentunya hoax ini kita lihat. Kan ada positif, ada negatif. Saya juga mengimbau kepada kawan-kawan putra-putri bangsa Indonesia ini ya mari sebenarnya kalau hoax itu membangun silakan saja," kata Djoko.

Namun ia tidak menjelaskan hoax seperti apa yang dianggapnya membangun itu. Ia hanya menjabarkan bahwa dalam melawan hoax itu kita, bangsa Indonesia, tidak perlu menjelek-jelekkan terlebih mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. 

Pernyataan Djoko kemudian memancing reaksi warganet. Tagar #HoaxMembangun pun menjadi trending topic di Twitter, berisikan hoax-hoax membangun versi netizen. 

Djoko pun langsung meralat pernyataannya.

"Itu sebetulnya gimmick, sengaja saya ingin lihat apa reaksinya, ternyata reaksinya keras, artinya teman-teman enggak melamun,” katanya kepada media—Rappler.com