Mengapa Jokowi mengatakan Indonesia mirip Korsel?

Trade Expo Indonesia ke-32 digelar, dengan target 33 kontrak dagang

Uni Lubis

11:55:14am October 11, 2017

11:55:14am October 11, 2017

Presiden Joko Widodo membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 Tahun 2017, di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Rabu (11/10). FOTO oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

Presiden Joko Widodo membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 Tahun 2017, di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Rabu (11/10). FOTO oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

JAKARTA, Indonesia - Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyampaikan data menggembirakan tentang ekspor. Dibanding periode yang sama tahun 2016 lalu, nilai ekspor Indonesia periode Januari – Agustis 2017 mencapai US$ 108,79 miliar dolar.  

Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 17,58%. Sementara ekspor non migas Januari – Agustus 2017 mencapai US$ 98,76 miliar dolar atau naik 17,73% dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Naiknya lumayan tinggi bila dibandingkan dengan  periode yang sama tahun 2016,” kata Presiden Jokowi saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 Tahun 2017 di Nusantara Hall Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 11 Oktober 2017.

Jokowi mengutip data Forum Ekonomi Dunia bahwa situasinya mirip saat Korea Selatan pertama kali bangkit jadi negara industri.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia telah siap menjadi mitra  penyedia sumber daya yang berkesinambungan  bagi pelaku usaha dunia yang ingin semakin menancapkan kuku di kancah perdagangan global. 

“Fokus utama TEI adalah transaksi business-to-business yang bersifat jangka panjang dan bertaraf  internasional,” kata Enggar.

33 kontrak dagang

TEI 2017 digelar selama lima  hari, yaitu pada 11-15 Oktober 2017.  Menurut Mendag,  panitia TEI telah menjadwalkan sekitar 33 penandatanganan kontrak dagang buying mission selama TEI berlangsung. Kontrak dagang berasal antara lain dari  Arab Saudi, Malaysia, Mesir, Australia, Thailand, India, Brasil, Inggris dan Amerika Serikat

Perkiraan total nilai kontrak dagang adalah sekitar US$ 223,23 juta dolar.  Untuk penandatanganan hari pertama,  kontrak dagang tercatat senilai US$ 16,07 juta dolar. Pada hari kedua, kontrak dagang membukukan nilai transaksi US$ 154,82 juta dolar. Hari ketiga perkiraan nilai kontrak sebesar $SD 47,25 juta dolar, dan pada hari keempat US$ 5,10 juta dolar.

 “Nilai ini tentunya akan terus bertambah pada saat  penyelenggaraan, bahkan setelah TEI,” kata Mendag. 

]Pembeli terbanyak yang telah mendaftar untuk mengunjungi TEI antara lain datang dari Nigeria, Arab Saudi, India, Pakistan, Bangladesh,Belanda, Malaysia, Afganistan, dan Australia.

“Hingga tanggal 10 Oktober 2017 ada 7.084 permintaan terhadap produk Indonesia pada TEI 2017.  Permintaan terbesar sejauh ini adalah untuk  produk makanan dan minuman; produk dan jasa manufaktur; serta furnitur, furnis, dan furnitur taman,” kata Mendag.

Untuk mendatangkan pembeli dari mancanegara, Kemendag bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri melalui  132 kantor perwakilan RI di luar negeri,  23 atase perdagangan, 19 kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), 1 Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, serta 1 Konsul Perdagangan maupun KADIN negara-negara sahabat dalam menyebarluaskan informasi tentang penyelenggaraan TEI di mancanegara. 

TEI merupakan ajang promosi tahunan berskala internasional yang menampilkan produk dan jasa Indonesia berorientasi pasar ekspor.  Pada tahun ini TEI merupakan yang ke-32 kalinya.

Perbedaan dengan TEI tahun-tahun sebelumnya adalah pada pelaksanaan tahun ini, pembiayaan TEI sepenuhnya berasal dari pihak swasta melalui public private partnership. – Rappler.com