'Tully': Sederhana tapi mengejutkan

Film 'Tully' sudah bisa mulai disaksikan di bioskop sejak 30 Mei 2018

Christian Simbolon

2:15:0am June 1, 2018

7:18:6am June 1, 2018

MARLO. Sosok Marlo (Charlize Theron), si super mom dalam film Tully. Foto dari instagram @tullymovie

MARLO. Sosok Marlo (Charlize Theron), si super mom dalam film Tully. Foto dari instagram @tullymovie

JAKARTA, Indonesia — Drama komedi berbalut psikologis yang diproduksi oleh Bron Studios, Right Way Productions, Denver and Delillah Productions ini menampilkan aktris kawakan Charlize Theron dan bintang muda yang naik daun lewat The Martian dan Blade Runner, Mackenzie Davis. 

Ditulis Diablo Cody (penulis sekanario Juno), plot yang tidak pasaran dalam Tully dapat dinikmati penonton di Tanah Air sejak 30 Mei ini.

Penonton akan disuguhkan gambaran super mom—yang oleh masyarakat Indonesia mungkin dianggap hal lazim. Namun, drama keluarga selama 94 menit yang digarap sutradara Jason Reitmen ini mungkin akan mengetuk kesadaran lain penonton. 

Ringkasan cerita

Memasak, mengurus rumah, dan terutama membesarkan anak—mulai dari menyiapkan segala keperluan mereka sebelum berangkat sekolah, mengantarkannya, hingga berbagai 'ritual' sebelum mereka tidur ialah keseharian yang dijalani Marlo (Charlize Theron). Hebatnya semua dilakukannya dalam kondisi hamil tua anak ketiga. Itu belum menyebut tentang perhatian ekstra yang perlu Marlo berikan pada Jonah, anak keduanya yang memiliki kebutuhan khusus secara psikologis. 

Drew (Mark Duplass) sang suami, tidak bisa dibilang suami yang membantu—kalau tidak mau disebut abai. Walau tetap menanyakan kesehariaan dan merespon hal-hal utama dalam kebutuhan rumah tangga, Drew pada umumnya sangat disibukkan pekerjaan. Sedangkan pada malam hari, ia hanya bermain game sebelum tidur, menghilangkan kepenatan bekerja. 

Marlo, si super mom bukan sosok yang suka mengeluh apalagi merengek. Sebaliknya, dia selalu merasa semua bisa ia selesaikan sendiri. Bahkan, setelah Mia, anak ketiganya, lahir dan fase begadang hingga pagi harus dilakoninya sendiri. Dalam kelelahan dan kurang kondisi kurang tidur akut, ia masih mencoba menolak saran dari Craig, kakak kandungnya, untuk mempekerjakan pengasuh anak khusus pada malam hari. 

TULLY. Marlo membuka pintu rumahnya untuk sosok misterius bernama Tully. Foto instagram @tullymovie

TULLY. Marlo membuka pintu rumahnya untuk sosok misterius bernama Tully. Foto instagram @tullymovie

Hingga akhirnya, Tully (Mackenzie Davis) datang pada suatu malam. Gadis muda berumur kepala dua pertengahan itu wujudnya jauh dari pengasuh pada umumnya. Tully yang frontal, atraktif, dan sedikit eksentrik itu nyatanya punya sisi keibuan, hangat, dan membuat Marlo akhirnya menyerahkan Mia sang bayi dalam pengawasannya.

Dan sejak saat itulah semua berubah dan banyak kejutan menanti yang tak diduga-duga. 

BERNYANYI. Dalam salah satu acara sekolah, Marlo bernyanyi dengan asyik bersama putrinya. Foto instagram @tullymovie

BERNYANYI. Dalam salah satu acara sekolah, Marlo bernyanyi dengan asyik bersama putrinya. Foto instagram @tullymovie

Highlights

Plot cerita film ini tidak seperti kebanyakan film drama komedi. Jauh dari kesan cheesy-love-story atau klise. Salah satunya karena dialognya tajam dan jujur, diselingi humor cerdas. Plus akting Theron yang membuat dialog-dialog itu seolah menjadi cuplikan kehidupan nyata seorang ibu muda. 

Di sisi lain, plot film ini tidak mudah ditebak. Bahkan, kalau mau dibilang unsur-unsur kejutannya bisa membuat film ini dijadikan rujukan diskusi psikologis ringan. Meski, tentu saja ini tidak akan serumit A Beautiful Mind atau Gone Girl yang dijadikan bahan kajian di kelas mahasiswa psikologi. 

Marlo yang memacu sepeda dengan cepat di trotoar Brooklyn mungkin menjadi puncak kejutan yang menghantarkan penonton ke bagian paling menarik dalam film ini. Bagaimana seseorang menghadapi dirinya sendiri dan ego-ego yang tersisa dari masa lalunya. 

Hal lain yang menarik ialah warna-warna yang ditampilkan dalam scene-scene tertentu di film ini. Warna-warna cerah dan lembut mengingatkan pada film-film karya Wes Anderson.  

ISTIRAHAT. Marlo beristirahat di sela-sela tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Foto instagram @tullymovie

Kelemahan

Meski ide cerita yang sederhana cukup menarik. Hanya saja sebagian besar rangkaian cerita terasa hambar. Plot twist di akhir pun tidak terlalu mengejutkan. 

Kekurangan lainnya ialah tidak ada nuansa khusus yang dihadirkan musik pendukung. Tully sangat minim soundtrack yang memorable

Hal lain yang menjadi kelemahan ialah Charlize Theron tampak hanya sendirian menampilkan performa akting gemilang. Aktor dan aktris lainnya, kecuali mungkin Mackinzie di beberapa adegan, praktis muncul sebagai pengembira saja. 

Rating 

7,5/10

SEKOLAH. Adegan lucu Marlo dan putranya bertemu dengan seorang staf pengajar di sekolah baru. Foto instagram @tullymovie

SEKOLAH. Adegan lucu Marlo dan putranya bertemu dengan seorang staf pengajar di sekolah baru. Foto instagram @tullymovie

Rekomendasi 

Salah satu kekuatan lain Tully ialah intimasi ide ceritanya yang dekat dengan keseharian ibu rumah tangga di masyarakat Indonesia. Detail-detail dalam Tully seakan mengingatkan, betapa konsep menjadi ibu rumah tangga ialah hal super kompleks yang tak bisa dianggap remeh. Cocok sekali disaksikan pasangan muda atau pasangan yang tengah berjuang menghidupi keluarga kecil. 

Ibu hamil akan sangat tersentuh bahkan berurai air mata sepanjang adegan yang mungkin akan menyentuh pengalaman pribadi mereka. Tapi secara keseluruhan, ini akan menjadi stimulus baik. 

Tapi mungkin film ini tidak semenarik itu bagi penonton usia remaja awal karena tidak terlalu relate dengan kehidupan mereka. 

—Rappler.com