‘Kulari Ke Pantai’: Memotret anak dari kacamata anak

Mira Lesmana dan Riri Riza memang tidak pernah main-main dalam membuat karya

Sakinah Ummu Haniy

9:20:53am June 23, 2018

12:34:23am June 25, 2018

Sam dan Happy duduk di atas ranting di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Foto dari Miles Films

Sam dan Happy duduk di atas ranting di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Foto dari Miles Films

JAKARTA, Indonesia — Di masa libur kenaikan kelas tahun ini, anak-anak disuguhkan beragam hiburan dan Kulari Ke Pantai wajib masuk dalam daftar tontonannya. Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan disutradarai oleh Riri Riza, melihat dua nama tersebut saja rasanya Kulari Ke Pantai memang tidak boleh dilewatkan.

Kulari Ke Pantai mendaulat dua aktor anak pendatang baru, Maisha Kanna dan Lil’li Latisha sebagai dua tokoh utama, dipasangkan dengan Marsha Timothy yang aktingnya sudah diakui di Cannes Film Festival.

Skenario film ini digarap berempat, oleh Mira Lesmana, Riri Riza, penulis skenario kawakan Gina S. Noer, serta komik Arie Kriting, dan di-co-produce oleh Ideosource Entertainment, Base, dan Go-Studio.

Ringkasan cerita

Di Rote, Nusa Tenggara Timur, hiduplah sebuah keluarga kecil beranggotakan Papa Irfan (Ibnu Jamil), Mama Uci (Marsha Timothy), dan Sam (Maisha Kanna). Mereka bertiga tinggal di sebuah penginapan cantik di pinggir pantai. Sam yang masih duduk di sekolah dasar sangat suka surfing dan bermimpi bisa bertemu dengan surfer idolanya. Oleh karena itu, Sam telah mengatur rencana liburan untuk jalan-jalan sepanjang pulau Jawa bersama ibunya.

Perjalanan dimulai dari Jakarta setelah merayakan ulang tahun neneknya. Di Jakarta Sam kembali bertemu dengan sepupunya, Happy (Lil’li Latisha), yang sepertinya sudah berubah. Happy yang sudah mulai besar mulai senang bersolek, sibuk dengan telepon genggamnya, dan bergosip bersama teman-teman sebayanya. Saat bertemu Sam, Happy pun merendahkan sepupunya itu. Oleh karena itu, ibunya memaksa Happy untuk ikut dalam perjalanan road trip Sam bersama Mama Uci.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju G-Land, di kawasan Timur pulau Jawa. Sepanjang perjalanan banyak kejadian tak terduga, pertemuan dengan teman-teman baru, dan pemandangan indah yang menjadi pengalaman berharga bagi Sam dan Happy.

Highlight

Sam dan Happy melakukan perjalanan bersama keliling Pulau Jawa. Foto dari Miles Films

Sam dan Happy melakukan perjalanan bersama keliling Pulau Jawa. Foto dari Miles Films

Rasanya penonton Indonesia sudah sangat merindukan sebuah film anak yang benar-benar melihat dari sudut pandang anak. Kulari Ke Pantai berhasil memberikan potret kehidupan anak-anak masa kini yang sangat relevan dan bisa dilihat di kehidupan sehari-hari. Meskipun tanpa alur cerita dan permasalahan yang berat, tetapi film ini mampu memberikan pesan berharga dengan cara yang ringan.

Yang juga patut disimak adalah berbagai pemandangan indah di berbagai tempat di Indonesia yang dikunjungi selama perjalanan Sam, Happy, dan Uci.

Kelemahan

Dengan segala eksekusi yang baik dan cerita yang kuat, rasanya sulit mencari kelemahan film ini. Tetapi yang saya rasakan saat film berakhir adalah, bahwa film ini akan sangat relate ke anak-anak perempuan, tetapi bisa jadi kurang sesuai untuk anak laki-laki.

Karena tiga pemeran utamanya adalah dua anak perempuan dan satu ibu, bisa jadi anak laki-laki yang menonton akan kurang tertarik dengan jalan cerita yang disajikan.

Mau tidak mau saya harus membandingkan dengan Petualangan Sherina, yang sepertinya lebih bisa dimengerti oleh semua anak.

Rating

9/10

Rekomendasi

Mama Uci menemani putrinya Sam menikmati sunrise di Bromo. Foto dari Miles Films

Mama Uci menemani putrinya Sam menikmati sunrise di Bromo. Foto dari Miles Films

Menurut saya film ini wajib ditonton oleh seluruh anak Indonesia. Jika generasi 90-an punya film Petualangan Sherina di masa kecil, Kulari Ke Pantai bisa jadi filmnya anak-anak generasi sekarang. Kualitas aktor, termasuk aktor anak-anak yang baru pertama kali bermain film, tidak perlu diragukan lagi. Film ini berhasil memperlihatkan kehidupan anak dari kacamata anak-anak sendiri, sehingga tidak terkesan menggurui dan sangat bisa mereka nikmati.

Di sisi lain, film ini bisa jadi cukup menghibur para penonton dewasa. Saat menonton film ini saya jadi merindukan masa-masa saat liburan sekolah bersama keluarga. Film ini juga bisa jadi inspirasi bagi para orang tua dan calon orang tua dalam melihat kehidupan anak-anaknya.

Sekali lagi, Mira Lesmana dan Riri Riza berhasil membuktikan bahwa mereka tidak pernah main-main saat membuat karya untuk anak Indonesia.—Rappler.com