'Loving Pablo': Menguak kisah hidup sang gembong narkoba

‘Loving Pablo’ diangkat dari buku ‘Loving Pablo, Hating Escobar’

Sakinah Ummu Haniy

4:46:27am June 27, 2018

4:49:31am June 27, 2018

Film 'Loving Pablo' diangkat dari buku 'Loving Pablo, Hating Escobar' karya Virginia Vallejo. Foto dari Loving Pablo

Film 'Loving Pablo' diangkat dari buku 'Loving Pablo, Hating Escobar' karya Virginia Vallejo. Foto dari Loving Pablo

JAKARTA, Indonesia — Loving Pablo merupakan film yang diangkat dari buku Loving Pablo, Hating Escobar yang ditulis Virginia Vallejo, seorang jurnalis yang pernah memiliki hubungan cinta terlarang dengan seorang gembong narkoba bernama Pablo Escobar. Buku dan filmnya menceritakan kehidupan nyata seorang Pablo Emilio Escobar Gaviria yang lahir di Rionegro, Kolombia, pada 1 Desember 1949 hingga kematiannya pada tahun 1993. 

Film ini pertama kali dirilis dalam Venice International Film Festival di Italia pada September 2017 lalu dan pernah juga diperlihatkan dalam sesi Special Presentation dalam 2017 Toronto International Film Festival.

Loving Pablo disutradarai oleh sutradara dan penulis skenario asal Spanyol Fernando Leon de Aranoa dan akan rilis di Indonesia akhir bulan Juni ini.

Ringkasan cerita

Loving Pablo merupakan kisah hidup seorang Pablo Escobar (Javier Bardem), gembong narkoba dari Kartel Medellin asal Kolombia yang pernah menguasai 80 persen pasar narkotika di Amerika Serikat. Harga jual narkoba di AS yang sangat tinggi membuat Pablo tercatat penjahat terkaya di dunia.

Pablo memiliki banyak anak buah, rakyat Medellin cinta padanya karena sebagian hasil penjualan narkoba ia gunakan untuk membangun kota tempat ia dibesarkan itu. Pablo juga memiliki hubungan terlarang dengan seorang jurnalis terkenal Kolombia bernama Virginia Vallejo (Penelope Cruz). Meskipun memiliki banyak pacar-pacar muda, Pablo memiliki istri cantik yang selalu setia padanya serta dua orang anak. Keluarga adalah harta paling berharga yang selalu dilindungi Pablo apapun caranya. 

Tak hanya uang, di puncak kejayaannya Pablo juga memiliki kekuasan. Selain menjadi gembong narkoba terkaya di Kolombia, Pablo juga pernah terpilih sebagai anggota senat Kolombia demi menggagalkan kebijakan ekstradisi kerja sama antara pemerintah Kolombia dengan pemerintah AS. 

Setelah membunuh beberapa orang penting yang menghalangi langkah-langkahnya Pablo menjadi buronan. Ia bersembunyi untuk beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri.

Tetapi kehidupan penjara bagi Pablo seolah hanya berubah menjadi hotel mewah dan kantor baru. Ia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dari dalam penjara, kecuali kebebasan untuk pergi bersama putrinya.

Selama Pablo berada di dalam penjara, bisnis narkoba berubah. Pablo pun memutuskan untuk kembali melarikan diri dari penjara. Dalam pelariannya kali ini ia sudah ditinggalkan oleh banyak pengikutnya yang memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah yang sedang memburunya, hidup atau mati.

Highlights

Keluarga adalah nomor satu bagi Pablo Escobar. Foto dari Loving Pablo

Keluarga adalah nomor satu bagi Pablo Escobar. Foto dari Loving Pablo

Entah karena akting, kostum, make up, tata lokasi, atau seluruh hal tersebut, tetapi saat menonton film ini saya seolah diperlihatkan sebuah dokumenter atau reality show tentang Pablo Escobar. Selain itu penonton penyuka film drama mafia akan puas menyaksikan beberapa adegan pembantaian yang sadis dan cukup menegangkan.

Kelemahan

Film ini kurang memberikan gambaran tentang latar belakang Pablo Escobar sebelum menjadi gembong narkoba sehingga kurang ada gambaran Pablo sebagai manusia biasa, terutama di paruh pertama film ini.

Rating

7,5/10

Rekomendasi

Pablo Escobar pernah terpilih sebagai anggota senat Kolombia. Foto dari Loving Pablo

Pablo Escobar pernah terpilih sebagai anggota senat Kolombia. Foto dari Loving Pablo

Film ini wajib ditonton oleh para penggemar film mafia karena memiliki seluruh adegan yang 'menyenangkan'. Tetapi jika tidak terlalu suka film sadis, lebih baik jangan menonton film ini. Dan jangan membawa anak di bawah umur untuk menonton film ini, selain karena rating 17 tahun ke atas pasti cukup sulit untuk anak-anak menyaksikan pembantaian sadis yang terjadi beberapa kali di sepanjang film.

—Rappler.com