'Sicario: Day of Soldado': Cerita fiksi dari realita kehidupan

Menyimak provokasi perang antar kartel di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko

Dhion Gumilang

9:11:27am June 28, 2018

9:11:27am June 28, 2018

AKSI. Alejandro Gillick (Benecio del Toro) dalam aksinya ketika disergap kepolisian federal Meksiko. Foto dari Sony Pictures Entertainment

AKSI. Alejandro Gillick (Benecio del Toro) dalam aksinya ketika disergap kepolisian federal Meksiko. Foto dari Sony Pictures Entertainment

JAKARTA, Indonesia — Film Sicario: Day of Soldado merupakan sekuel film dari Sicario yang dirilis pada tahun 2015. Dalam sekuel ini, Emily Blunt—aktris yang memperkuat sekuel pertama—tidak kembali tampil. Tapi absennya Emily tidak membuat film besutan sutradara Stefano Sollima ini berkurang bobot ceritanya.

Bahkan, dengan mengangkat cerita penyelundupan imigran gelap dari Meksiko ke Amerika Serikat menjadikan film ini lebih bisa dimengerti sesuai dengan konteks realita yang ada.

Josh Brolin berhasil menjadi bintang dalam cerita ini bersama dengan Benicio del Toro. Keduanya menerjemahkan carut marut kekuasaan kartel di Meksiko dan bagaimana campur tangan pemerintah Amerika Serikat dalam akting briliannya melalui panduan skrip karya Taylor Sheridan.

Film ini rilis pada 29 Juni 2018.

Ringkasan cerita

Pemerintah Amerika Serikat berang dan menyatakan bahwa ini adalah aksi terorisme dengan diketahuinya ada penyelundupan Sicario, seorang pembunuh bayaran dari Meksiko oleh kartel setempat. Sicario ini berhasil meledakkan bom dan pemerintah kemudian menyusun sebuah operasi untuk membalas dengan menciptakan keributan di Mexico.

Matt Gaver (Josh Brolin) seorang agen CIA diberi tugas untuk memimpin regu operasi untuk menculik Isabela Reyes (Isabela Moner) anak perempuan dari kartel berpengaruh di Meksiko dan dibuat seolah penculikan ini dilakukan oleh kartel saingan.

Bantuan dari Alejandro Gillick (Benecio del Toro) membuat operasi ini berjalan mulus dan membuat provokasi antar kartel di Meksiko untuk berperang. Tetapi aksi provokasi ini diketahui dan digagalkan oleh pemerintah Meksiko sehingga menyebabkan Isabela berhasil kabur. Hal ini membuat Matt dalam situasi yang sulit ketika Alejandro memutuskan untuk mengejar dan menyelamatkan Isabel. 

ANTI PELURU. Rompi anti-peluru dipersiapkan untuk mengantarkan Isabela Reyes kembali ke Meksiko. Foto dari Sony Pictures Entertainment

ANTI PELURU. Rompi anti-peluru dipersiapkan untuk mengantarkan Isabela Reyes kembali ke Meksiko. Foto dari Sony Pictures Entertainment

Highlights

Jalan cerita dalam Sicario: Day of Soldado ditulis dengan detil yang sempurna. Elemen realita dimasukan dalam deskripsi bagaimana imigran gelap menyeberangi perbatasan untuk mengejar 'American Dream' sehingga penonton bisa lebih mudah memahami kesulitan yang dihadapi oleh para karakter.

Selain itu, akting brilian dari Benecio del Toro ketika berkomunikasi dalam bahasa isyarat, mengingatkan pada anak perempuannya yang dibunuh, sangat menyentuh. Emosi yang diciptakannya berhasil sampai ke penonton.

EMOSIONAL. Pembicaraan yang mengaduk emosi penonton antara Alejandro dan Isabela dalam misi menyeberangi perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. Foto dari Sony Pictures Entertainment

EMOSIONAL. Pembicaraan yang mengaduk emosi penonton antara Alejandro dan Isabela dalam misi menyeberangi perbatasan Meksiko-Amerika Serikat. Foto dari Sony Pictures Entertainment

Kelemahan

Dalam sekuel pertamanya, penonton diberikan keleluasaan untuk menyelami misteri dari apa yang terjadi di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Tetapi di Sicario: Day of Soldado, penonton seakan diberikan terlalu banyak detil dan informasi atas apa yang terjadi di area terlarang.

Rating

8/10

Rekomendasi

Film yang termasuk dalam kategori action/thriller ini banyak menampilkan adegan kekerasan baik berupa tembakan, ledakan, darah, dan verbal. Bagi yang menyukai film dengan genre seperti ini, diharapkan untuk tidak mengajak serta anak di bawah umur ketika menontonnya.

Superioritas maskulin sangat kuat dirasakan dalam alur cerita.

—Rappler.com