Cerita mereka yang jadi korban 'cyberbullying'

Meski dampak cyberbullying tak terlihat, bukan berarti itu tidak nyata

Abdul Qowi Bastian

9:35:55am October 31, 2017

9:37:32am October 31, 2017

Ilustrasi oleh Tri Khalidya/Rappler

Ilustrasi oleh Tri Khalidya/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Cyberbullying itu nyata. Meski itu terjadi di dalam layar monitor, bukan berarti itu tidak nyata. 

Perudungan siber memiliki efek yang tidak kecil dalam psikologis seseorang. Menurunnya kepercayaan diri, terganggunya performa dalam belajar dan bekerja, hingga memiliki niat untuk melakukan tindakan bunuh diri hanya merupakan beberapa dampak dari cyberbullying.

Ketika Rappler memulai liputan untuk mengangkat topik ini, saya mencoba mencari narasumber yang ingin berbicara mengenai kisahnya. Bukan satu-dua respon yang saya dapatkan, tapi banyak sekali. Beberapa kisah mereka terjalin ke dalam artikel ini.

(BACA: Melawan ‘cyberbullying’ dengan membalas yang baik)

Namun masih ada narasumber-narasumber lain ingin cerita mereka didengar oleh masyarakat luas. 

Rappler mengumpulkan kisah-kisah mereka yang pernah menjadi korban cyberbullying di bawah ini. Cerita mereka adalah bukti bahwa mereka ada di sekitar kita. Hanya karena efeknya tak terlihat, bukan berarti itu tidak nyata.

Aprilia Maria, 24 tahun, manajer studio tato

Jadi waktu itu pernah dekat sama orang (ini aku bilang dekat karena aku enggak mau pacaran, tapi dia ngotot pengen statusnya pacar). Long story short, akhirnya aku tahu dia pacaran sama yang lain tapi enggak mau mengaku awalnya. Lalu tiba-tiba aku yang disuruh jaga jarak.

Setelah enggak sama dia, mulailah ada akun-akun anon yang mengirim Direct Message dari Twitter sampai Instagram, nyuruh jauhin si cowok itu. Sampai ngatain fisik, penampilan, cewek enggak bener, dan lain-lain.

Awalnya aku biasa aja dan enggak begitu mikirin, tapi lama-lama akun-akun itu makin sering. Aku sampe sempat nonaktifin Twitter sama Instagram. Teman-temanku bilang jangan nonaktifin, nanti si akun anon itu yang menang. Tapi aku ngejaga diri sendiri karena sadar punya riwayat depresi ringan.

Angga Mardhian Locano, 21 tahun, mahasiswa

Hai, salam kenal. Saya Angga Mardhian Locano, menetap di Cirebon sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya saya tinggal di Magetan, Jawa Timur selama 10 tahun. Saya pernah mengalami cyberbullying kira-kira 8 tahun lalu saat masih kelas 2 SMP.

Awal saya mengenal kata "maho". Dulu Facebook adalah hal yang paling gaul di kota sekecil Magetan, termasuk saya. Masa SMP-SMA adalah pencarian jati diri saya, mungkin dipengaruhi oleh masa pubertas juga.

Saya ingin mendapat teman cowok yang bisa berbagi perasaan layaknya pertemanan yang ada. Saya dekatilah salah satu teman saya bernama Bimo. Memang dia sudah seperti orang hits satu sekolahan, siapa yang tak kenal dia, bahkan sekota Magetan. Karena memang keluarganya yang sering jadi pembicaraan walau kurang dipandang dari sisi prestasi.

Kedekatan saya dengan Bimo ternyata dianggap hal yang aneh oleh teman-teman saya lainnya. Saya menyadari itu ketika membuka Facebook. Foto Bimo bersama temannya muncul di beranda Facebook dengan tag yang lumayan banyak. Komenlah saya di foto tersebut karena saya tertarik untuk ikut dalam percakapan mereka. Tak lama setelah itu, muncul sebuah komentar dari teman Bimo di bawah komentar saya “Itu lho maho cariin kamu.”

Apa maksudnya? Tak ada sambungannya dengan komentar lain. Saya pun membalas komentar tersebut karena penasaran, tetapi balasannya sangat tidak mengenakkan. Bahkan menertawai. Maho singkatan dari “Manusia Homo”, mungkin? Selama ini jadi bahan guyonan banyak pria seumuran saya. Mengapa kedekatan saya dianggap hal yang aneh lalu menyangkut pautkannya dengan orientasi seksual?

Sejak itu saya menjauhi Bimo hingga sekarang saya merasa lebih baik dengan keadaan saya yang mungkin sebagian teman saya di Magetan sudah mendengar kabar burung tentang "maho”.

Jauza Alayya, 20 tahun, mahasiswi

Pengalaman cyberbullying saya terjadi ketika SMP. Berawal dari suatu grup di Facebook dengan judul ABC yang diakhiran saya tahu bahwa ABC merupakan singkatan “Aku Benci Caca” (Caca nama panggilan saya).

Grup ini berisi sekelompok orang yang diakhiran saya tahu merupakan teman sekelas saya yang merasa tidak suka dengan saya. Di sana mereka bergosip tentang saya: Saya lesbi, saya ansos, saya perempuan genit, dan semacamnya.

Mereka mengundang semua perempuan di kelas untuk kemudian bergabung di sana. Hampir semua perempuan di kelas tergabung di grup itu. Gosip dan omongan jelek pun makin marak beredar. Saya sempat tidak punya teman selama beberapa bulan. Saya harus pindah duduk di kelompok laki-laki. Bermain dengan hanya teman laki-laki.

Kemudian teman laki-laki saya yang curiga menanyai beberapa anak, “Ada masalah apa sih ama dia?”, “Ada gosip apa sih?"

Hingga akhirnya beberapa anak perempuan mengaku bahwa ada grup ABC. Singkat cerita masalah selesai, beberapa anak mengaku bergabung di grup hanya karena tidak ingin jadi seperti saya. Beberapa mengaku tidak tahu kalau grup ABC adalah Aku Benci Caca, mereka kira “Aku Benci Cinta”. Dan alasan-alasan lain.

Singkat cerita, saat ini saya memiliki sedikit trauma dan krisis kepercayaan pada teman perempuan. Semenjak kelas 2 SMP, teman-teman perempuan saya hanya bisa dihitung dengan satu tangan, yakni 5 jari.

Saya menutup koneksi dengan perempuan, sangat memperhatikan penampilan saya karena takut mendapat hinaaan lagi, menghindari kontak dengan perempuan, dan semacamnya.

Yopi Kurniawan, 28 tahun, asisten desainer

Pengalaman cyberbullying yang pertama kali saya dapatkan berasal dari teman-teman atau beberapa pengguna fake accounts yang beredar di dunia maya. Saya seorang pageant lover yang bekerja di industri fashion tentu sering kali bertemu dengan para pelaku pageants itu sendiri, apalagi desainer di tempat saya bekerja sering bekerja sama dengan organisasi atau yayasan tempat para pelaku pageants itu bernaung.

Singkat cerita, intensitas bertemu dengan para pelaku pageants yang tinggi dan beberapa dokumentasi yang sering saya unggah di social media tentu mengundang beberapa penilaian dari para pengguna social media itu sendiri. Ditambah lagi hobby saya melakukan parodi catwalk tentu menuai banyak cibiran dan tak sedikit pula yang memberikan pujian, mulai dari cibiran yang menyerang fisik sampai mental pernah saya dapatkan.

Hal itu tentu membuat saya down apalagi kalau cibiran itu disangkut pautkan dengan keluarga saya. Pernah ibu saya ikut dihina dan itu membuat saya sangat sedih sekali.

Support dan doa dari teman-teman yang berada di belakang saya sangat berarti sekali, positive vibes yang selalu mereka berikan tentu berdampak besar bagi kehidupan dan diri saya. Saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, more talkative, respect the others.

Satu pelajaran yang saya ambil dalam kehidupan pasti ada orang yang suka dan tidak suka, semua tergantung bagaimana diri kita menyikapinya. Abaikan semua komentar negatif, ambil sisi positifnya dan jadikan pembelajaran agar kita menjadi manusia yang baik kedepannya.

Diajeng Larasati Sekar Anum, 26 tahun, guru TK

Sebenernya bukan cyberbully yang terlalu parah. Cuma ini pertama kali saya dikucilkan dan dihina oleh satu kelompok (atau geng?).

Jadi akar masalahnya saya di- invite ke sebuah grup WhatsApp bernama Rukun Warga (RW). Mereka ini kumpulan anak Twitter yang terkenal suka bully orang. Waktu saya dimasukkan ke grup itu saya bingung kenapa saya dipilih oleh mereka, ternyata karena dulu saya kalo nge-tweet suka nyinyir (mungkin sekarang masih).

Bergabung dengan grup itu saya akhirnya jarang ikut dalam obrolan mereka. Banyak nama yang mereka sebut di grup itu, mereka enggak suka Si Ini, Si Itu dan bahkan enggak jarang mereka buat plot untuk menyerang dan bully orang lain. Saya diam dan tidak pernah mau ikut. Hanya sekali-dua kali saja saya menyapa mereka. Pernah suatu hari mereka memasukkan satu orang ke grup kemudian mereka bully dan katain dia seharian. Sampe akhirnya dia left group dan mereka invite lagi. Akhirnya dia merasa terganggu dan left. Setelah itu mereka tertawa di grup itu. Saya diam.

Dan akhirnya suatu hari semua anak Rukun Warga di- unfollow oleh satu selebtweet, entah apa alasannya. Dan satu per satu mereka left group tersebut. Akhirnya saya left dan merasa bebas. Namun ternyata mereka membuat grup lagi untuk ngata-ngatain saya. Salah satu anak RW memberikan beberapa screenshot chat mereka yang sedang ngatain saya. Ternyata mereka curiga bahwa saya yang menghasut selebtweet tersebut untuk unfollow mereka.

Padahal saya tidak pernah sekalipun chat/ngobrol dengan dia. Kami hanya saling follow. Setelah itu saya japri salah satu pencetus bahwa sayalah penyebab mereka di- unfollow oleh sang selebtweet. Saya bilang ke dia bahwa saya tidak pernah sekalipun menghasut siapapun, saya minta dia untuk minta maaf karena di grup itu dia sudah membuat meme tentang saya dan menjadikan saya bahan tertawaan.

Chat saya cuma di- read dan akhirnya kelompok itu sangat marah (enggak kenapa harus marah, ya) karena mereka kaget kok saya bisa tau.

Satu per satu dari mereka japri saya dan mendesak untuk kasih tahu siapa yang kasih tahu saya tentang semuanya. Saya tetap diam dan akhirnya mereka mem-bully saya di twitter. Mereka mengatai saya dengan sebutan "dianjeng”, "anjing" sambil mention saya. Akhirnya saya menyerah dan hapus Twitter selama seminggu.

Saya cerita ke beberapa teman dan mereka meyakinkan saya bahwa saya tidak salah dan menyuruh saya untuk balik ke Twitter. Untuk mengembalikan keberanian sangat-sangat berat (padahal cuma dikatain anjing, enggak bisa bayangin yang dikatain macam-macam setiap hari). Akhirnya saya balik ke Twitter dan block mereka satu per satu. Selesai.

Point-nya sih masalah kecil kayak gini aja membekas banget buat saya, enggak bisa bayangin yang di-bully setiap hari. Kalau saya pasti enggak sanggup.

Marisa Duma Sirait

Bullying-nya terjadi karena kesalahan dalam bisnis. Saya salah mempercayai orang waktu saya menjalankan bisnis produksi baju. Saya mengambil bahan di Bandung, mengaturnya untuk dijahit menjadi kaus, mencetaknya, dan diberikan ke klien.

Anyway, saya melakukannya secara online, di sebuah forum. Saya tidak perlu untuk mempromosikan bisnisnya, karena di sana saya bisa dapat klien. Singkatnya, saya meminjam uang dari seorang kenalan, pengguna situs tersebut, sebanyak Rp.500,000 totalnya—yang saya janjikan untuk dikembalikan setelah pesanan dibayar klien.

Masalahnya adalah kaus yang saya pesan untuk dijahit, dicetak, dan diberikan ke klien, tidak pernah sampai. Itu tidak pernah dikirimkan. Saya menghabiskan siang dan malam mencari orang yang saya pesan kausnya di Bandung. Dia adalah teman dari teman saya. Beberapa bilang dia sedang mengadakan kawin tembak dan lainnya.

Bullying di situs itu dimulai ketika seorang pengguna memutuskan untuk mengungkapkan ini ke publik. Saya percaya dia adalah orang yang saya pinjam uangnya, meski saya bisa saja salah. Saya tidak terlalu ingat siapa yang pertama kali mengungkapkannya. Kemudian saya memberikan penjelasan di publik. Orang yang saya pinjam uangnya itu membalas dengan kasar.

Saya rasa ini aneh, karena saya kan tidak menyerangnya dalam penjelasan saya. Sepertinya ada sesuatu yang lebih personal yang tidak saya ketahui terjadi. Anyway, reaksi kasarnya membuka pintu pada pem- bully-an saya.

Singkatnya, saya dijuluki macam-macam. Salah satunya adalah monster. Anda tidak memanggil orang lain monster dalam hubungan bisnis. Ini adalah bullying. Pengguna lainnya menyebut ini adalah pembunuhan karakter.

Apa dampaknya pada saya? Sejak itu, saya tidak pernah lagi menjalankan bisnis. Kalau orang lain bertahan pada bullying karena berbagai alasan, alasan saya adalah persoalan ekonomi. Saat itu, saya berada dalam posisi ekonomi marjinal.

Dari bullying itu, saya mengerti rasanya terpinggirkan. Dan ketika Anda terpinggirkan, segudang masalah muncul. Bullying itu cuma alatnya. Anda harus melihat pada gambaran yang lebih besar untuk mengerti mekanisme dan tujuan utamanya—apalagi kalau banyak orang sudah mengalaminya seperti yang Anda bilang.

Orang yang memanggil saya monster sekarang jadi selebtweet di Twitter.

Muhammad Riandhy

Terima kasih atas kesempatan untuk mengungkapkan pikiran saya. Ini adalah salah satu hal tersulit karena saya masih merasakan trauma akibat cyberbullying itu hingga saat ini.

Kasus ini bermula di Facebook sekitar satu bulan lalu, Ibu mantan pacar saya menyerang saya di publik menggunakan bahasa yang tidak pantas, termasuk sumpah serapah, hinaan, hingga julukan, sambil berusaha untuk mempengaruhi orang-orang yang membacanya agar memandang saya buruk. Saya benci untuk mengakuinya, tapi itu menghancurkan rasa percaya diri saya. Dia menyampaikan ke semua orang dalam serangan-serangannya bahwa saya tidak lebih baik daripada sampah dan tidak pantas pacaran sama anaknya.

Dia menyebarkan kebenciannya dengan mengomentari setiap foto saya di Facebook dan Instagram, serta mengampanyekan pandangannya terhadap saya agar orang-orang memandang saya seburuk yang dipandangnya.

Sakitnya tidak terasa sewaktu anaknya masih memilih untuk bersama saya. Tapi ketika dia berhasil membujuk putrinya untuk meninggalkan saya, saya mulai merasakan sakitnya.

Dia tidak berhenti di sana dan tetap meresahkan saya lewat beragam media sosial, walaupun semuanya sudah berakhir. Hanya karena dia ingin memberikan sebanyak mungkin luka yang bisa dia berikan. Saya hampir gila karena perbuatannya.

—Rappler.com