#AnimatED: Selamat tahun baru 2017!

Tak ada salahnya berjalan mundur sejenak untuk melihat kembali apa saja yang terjadi sepanjang tahun lalu

Rappler.com

Published: 11:15 AM January 1, 2017

Updated: 12:28 PM January 1, 2017

JAKARTA, Indonesia — Terompet tahun baru telah ditiup. Kembang api diluncurkan, sorot lampu warna-warni menyinari malam terakhir tahun 2016. Begitu pula jagung bakar disantap bersama orang-orang terkasih. Kita berpesta semalam menyambut Tahun Baru 2017.

Namun, setelah tahun berganti, tak ada salahnya berjalan mundur sejenak untuk melihat kembali apa saja yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Bukan sekadar untuk bernostalgia, tapi sekaligus mengambil hikmah atas peristwa-peristiwa yang telah terjadi.

Pada dua pekan pertama tahun lalu, kita dikejutkan oleh ledakan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. 

Sedikitnya dua bom meledak di kawasan ini. Selain itu, juga terjadi baku tembak antara polisi dengan pelaku teror. Akibatnya, 8 orang tewas dan 25 lainnya terluka.  

Sebanyak 12 orang kemudian ditangkap. Dari keterangan mereka, polisi mengendus adanya keterlibatan pentolan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia, Bahrun Naim.

Hampir 11 bulan setelah serangan tersebut, polisi menyergap kelompok terduga teroris di Bekasi dan Tangerang Selatan. Dari Bekasi, polisi menemukan bom di dalam rice cooker. Sementara dari Tangerang Selatan, ditemukan 6 bom aktif. 

Dari dua kelompok ini, polisi lagi-lagi menemukan jejak Bahrun Naim. Ia diduga meminta mereka meledakkan diri saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Perintah ini datang dari Suriah.

Beruntung, jaringan ini berhasil dibongkar sebelum beraksi. Perayaan Natal pun berjalan aman dan perayaan tahun baru juga demikian.  Kinerja polisi —khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror—menjegal gerak teroris patut dipuji. 

Namun pekerjaan rumah polisi belum selesai. Mereka masih harus menangkap Bahrun Naim. Sebab, meski berada di Suriah, Bahrun terbukti bisa menggerakkan sel-sel teroris di Indonesia.  

Rentetan serangan teroris yang terjadi setelah bom Sarinah hingga penyergapan kelompok Bekasi dan Tangerang Selatan sangat mungkin terhubung dengannya.

Selain itu, ketangkasan polisi menjegal aksi teroris juga harus diiringi sikap tegas mereka terhadap organisasi massa yang kerap bersikap intoleran.

Kita tahu, cukup banyak aksi intoleransi sepanjang 2016. SETARA Institute menghitung setidaknya ada 182 pelanggaran terhadap kebebasan beragama.

Kasus terbaru adalah pembubaran kegiatan KKR di Gedung Sabuga Bandung serta aksi sweeping yang dilakukan sejumlah ormas di beberapa kota. Kasus intimidasi terhadap komunitas LGBT juga tak kunjung surut.

Karena itu ketegasan aparat terhadap kelompok atau ormas intoleran diperlukan. Rencana Kementerian Dalam Negeri menertibkan ormas-ormas ini juga patut didukung.

Sebab sikap intoleransi adalah langkah awal menuju radikalisme —dan bahkan terorisme. Membiarkannya tumbuh berkembang di masyarakat sama saja memelihara bom waktu.

Selain terorisme dan intoleransi, masalah lain yang penting disoroti sepanjang tahun lalu adalah kasus penodaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Ahok dianggap telah menistakan agama melalui ucapannya tentang surah Al-Maidah ayat 51 saat kerkunjung ke Kepulauan Seribu pada 27 September.

Saat ini, kasus tersebut sedang bergulir di pengadilan. Kita menanti seperti apa keputusan majelis hakim pada akhir persidangan nanti. 

Jika dinyatakan bersalah, Ahok akan menjadi orang kesekian yang menjadi korban pasal penodaan agama alias pasal 156 huruf a KUHP.

Banyak orang telah terjerat kasus ini. Tajul Muluk di Sampang, misalnya, dihukum 4 tahun penjara karena dianggap menodai agama karena menganut Syiah. 

Revisi, bahkan mungkin pencabutan, pasal ini diperlukan. Agar tak ada lagi korban yang berjatuhan. Juga agar publik lebih bebas menafsirkan teks agama mereka. 

Seseorang tak boleh dipenjara hanya karena memiliki tafsir berbeda dengan tafsir mayoritas. Sebab tafsir terhadap ajaran agama tak boleh dimonopoli satu golongan.

Peristiwa lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah jatuhnya helikopter milik TNI pada 24 November lalu. Helikopter jenis Bell-412 EP tersebut jatuh ke jurang di Malinau, Kalimantan Utara. 

Ini menjadi helikopter TNI ketiga yang jatuh sepanjang tahun ini. Dua helikopter lainnya jatuh Poso pada 20 Maret dan di Yogyakarta pada 8 Juli. Sedikitnya 16 prajurit tewas dalam dua insiden tersebut.

Selain tiga helikopter, satu pesawat Hercules milik TNI juga jatuh di Wamena, Papua, 18 Desember. Sebelumnya TNI juga kehilangan Pesawat Super Tucano yang jatuh di Malang pada Februari.

Total ada tiga helikopter dan dua pesawat TNI jatuh sepanjang tahun ini. Sehingga sudah saatnya Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) dievaluasi. 

Sebab anggaran Kementerian Pertahanan pada periode 2010-2017 naik 154,8 persen. Pada 2010, anggaran pertahanan Rp40 triliun. Tahun ini anggaran tersebut naik menjadi Rp108,7 triliun. 

Tahun ini, anggaran untuk Kementerian Pertahanan masih di angka Rp108 triliun. Dari jumlah tersebut, dana yang dialokasikan untuk modernisasi alutsista sebesar Rp8,4 triliun.

Dengan budget segitu, kita tentu tak berharap ada peremajaan alutsista besar-besaran. Karena itu evaluasi terhadap alutsista yang telah ada diperlukan. Agar tak ada lagi prajurit yang tewas karena kecelakaan pesawat atau helikopter.

Masalah lain yang perlu mendapat perhatian adalah bencana. Menjelang akhir tahun ini kita dikejutkan oleh gempa 6,5 SR yang menggoyang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 7 Desember.

Akibat gempa ini, 104 orang tewas, ratusan rumah luluh-lantak, gedung-gedung sekolah dan pemerintah hancur, serta puluhan ribu orang mengungsi. 

Kesigapan pemerintah menangani pengungsi layak diapresiasi. Di Pidie Jaya, puing-puing reruntuhan bahkan sudah mulai bersih dalam waktu kurang dari sepekan.

Namun masyarakat tetap perlu diingatkan jika mereka hidup di jalur Ring of Fire kawasan Pasifik dan di atas pertemuan beberapa lempeng bumi.   

Karena itu gempa bumi setiap saat bisa terjadi. Namun banyaknya korban jiwa setidaknya menandakan kita belum belajar terlalu banyak dari gempa-gempa sebelumnya.

Terakhir, memasuki tahun 2017, mari berharap agar tahun ini segala sesuatunya menjadi lebih baik.  

Selamat tahun baru! —Rappler.com